Pengajian Fathul Qorib

Hasil gambar untuk KITAB FATHUL QORIB

Dalam alur sejarah pemikiran Islam pesantren, selain ilmu alat; nahwu dan shorof, fiqh merupakan primadona, di mana hampir setiap saat dan waktu ilmu tersebut dikaji dan diteliti oleh para santri dan bahkan guyonan-guyonan santri seringkali mengambil istilah-istilah fiqh. Ihwal demikian sangatlah dimaklumi mengingat ilmu fiqh berhubungan erat dengan tingkah laku mukkalaf (orang yang terbebani hukum) yang menyangkut persoalan ibadah, mu’amalahjinayah (hukum pidana), siyasah (politik) dan al-akhwal as-syahsiyah (keluarga) dan bahkan dalam nalar keilmuan pesantren tolak ukur kealiman seseorang ditentukan oleh kedalamannya dalam ilmu fiqh. Standarisasi kealiman ini bukanlah tidak beralasan mengingat kata fiqh sendiri sebelum dijadikan sebagai kedisiplinan ilmu lebih berorientasi pada orang yang paham akan agama, di mana siapapun yang paham dengan agama akan disebut faqih. Inilah yang dapat dipahami dari karya monumentalnya Imam Hanafi yang diberi judul Fiqh al-Kabir.  
Atas dasar itulah, kajian tentang fiqh banyak dilakukan oleh para ulama dari mulai yang sangat sederhana kajiannya sampai yang sangat dalam. Di antara kitab-kitab fiqih yang biasa dikaji di pesantren adalah Safinah an-Najah, Sulam at-Taufiq karya Syeikh Nawawi al-Bantani, fathul muin karya Syeikh Zainuddin murid dari Ibnu Hajar al-al-Haitami dan kitab Fathul Qorib. Kitab yang disebut terakhir ini ditulis oleh Syeikh Abu Syuja (433-539 H) seorang ahli fiqh abad empat Hijriyyah yang bermadzhab Syafi’i.
Dalam kitabnya, Abu Syuja menjelaskan latar belakang disusunnya kitab tersebut yaitu merupakan respon dirinya atas permintaan sahabat dan santri-santrinya yang menghendaki beliau menulis kitab fiqh madzhab Syafi-i dalam rangka memberikan kemudahan bagi para pengkaji yang masih pemula, sebagaimana harapan beliau dalam memberikan nama kitab tersebut dengan judulfathul qorib.
Kitab fathul qorib sendiri secara populer disebut dengan ghoyatul mukhtasar dan nihayatul mukhtasar (paling sempurnanya ringkasan). Hal ini dikarenakan muatan isi kajiannya, di mana kitab yang sangat sederhana ini tidak hanya mengkaji persolan ubudiyah yang sifatnya makhdoh tetapi mengkaji berbagai persoalan fiqh. Inilah yang membedakannya dengan kitab-kitab fiqh yang kecil lainnya. Meski dalam sistematika pembahasannya syiekh Abu Syuja tidak berbeda dengan kitab-kitab fiqh lainnya.
Syeikh Abu Syuja terlebih dahulu menjelaskan tentang thoharoh sebelum kemudian secara terperinci dan konprehensif (menyeluruh) membahas persoalan yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, al-akhwal as-syahsiyah, jinayah dan siyasah. Sistematika ini sangatlah beralasan mengingat thoharoh menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi setiap mukkalaf dalam menjalankan ibadah yang berhubungan dengan sang kholik sehingga logikanya sebelum beribadah maka seorang muslim harus tahu terlebih dahulu bagaimana caranya bersuci karena bersuci termasuk syarat dari ibadah yang berarti sah dan tidaknya ibadah seseorang bergantung pada benar dan tidaknya bersuci.
Meski Syeikh Abu Syuja memulai dengan thoharoh dan banyak memuat kajian tentang ibadah makhdoh bukan berarti yang lainnya tidak penting, semua yang dikaji di dalam kitab ini menjadi penting semuanya untuk dikaji termasuk yang berkaitan dengan jual beli (buyu’), gadai menggadai (al-Rahnu), pinjam meminjam (Isti’arah), kerjasama kerja dan harta (Syirkah), dan persoalan muamalah dan hukum perdata lainya yang menyangkut fiqh munakahat, faroid, dan hukum pidana (jinayah), politik (siyasah) serta bahkan dengan persoalan perbudakan. Persoalan ini dianggap penting karena berkaitan dengan tata nilai sosial dalam menjamin hak hidup sebagai makhluk Allah.

BAB NIKAH


HUKUM NIAT PUASA ROMADHON SATU BULAN PENUH




Image result for HUKUM NIAT PUASA RAMADHAN SATU BULAN PENUH
.
Mas Ahmad adalah seorang santri yang sedang pulang liburan bulan puasa, sudah menjadi kebiasaan di desanya kalau ada santri yang pulang pasti menjadi tempat bertanya masalah agama, entah tanya beneran atau sekedar mengetes, tp itulah yg terjadi. singkat kata Mas Ahmad ditanya oleh tetangganya perihal niat puasa Romadhon.

Penanya         :
bagaimana hukum puasanya orang yang telah niat puasa Romadhon sebulan penuh(dijamak niatnya) diawal malam bulan Romadhon,? apakakah hari selanjutnya tidak perlu niat puasa lagi ??
Mas Ahmad pun menjawab dengan gaya ala peserta bahshul masail.
Mas Ahmad  :
Adapun hukum puasanya seseorang yang niat puasa sebulan penuh (dijamak bahasa santrinya) pada malam awal Romadhon untuk puasa di hari-hari setelah hari pertama  adalah khilaf antar madzhab atau ulama madzhab berbeda pendapat; (1)

1.menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh tersebut chanya cukup untuk puasa satu hari yang pertama saja. sehingga wajib  niat kembali dihari-hari selanjutnya, jika tidak maka tidak sah puasanya di hari-hari selanjutnya tersebut yang tanpa niat, kecuali puasa romadlon hari pertamanya saja.
2.sedangkan menurut imam Malik niat puasa romadlon untuk sebulan penuh sdah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali, yang artinya jika tidak niatpun sudah sah karena niatnya sudah sebulan penuh pada malam hari pertama awal puasa Romadlon tersebut. [ Fathul Mu'in 55, Hasyiya qulyubi wa 'umairoh 2/67, Al majmu' syarah muhadzab 6/303, Hasyiyah al bajuri 1/288,].

Adapun niat puasa sebulan penuh (dijamak bahasa santrinya) pada malam awal puasa romadhon itu sendiri hukumya sunah menurut madzhab Syafi'i, dengan maksud mengambil kemanfaatan bertaqlid pada pendapat Imam Malik. (2)


Oleh. Pengurus Diniyiah ASA
_________________________________________________________________________________ 

 (1)
فلو نوى ليلة اول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الاول ، لكن ينبغى له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذى نسي النية فبه عند مالك كما يسن له ان ينوى اول اليوم الذى نسيها فيه ليحصل له صومه عند ابى حنيفة و واضح ان محله ان قلد و الا كان متلبسا بعبادة فاسدة فى اعتقاده و هو حرام 
Apabila seseorang berniat pada awal malam bulan Ramadhan untuk melakukan puasa keseluruhannya ( 1 bulan full ) maka menurut Madzhab Syafii hal tersebut tidak cukup. Kewajiban niat harus dilakukan pada setiap malamnya. namun madzhab Maliki menyarankan untuk melakukan niat jamak puasa 1 bulan full pada awal malam bulan Ramadhan hal ini untuk menjaga puasa yang lupa tidak diniati, seperti halnya disunahkan niat puasa permulaan hari oleh Madzhab Hanafi bagi seseorang yg lupa niat supaya terhitung puasanya, namun hal tersebut harus dimengerti taqlid dengan madzhab Maliki dan Hanafi supaya tidak terjadi kerancuan beribadah.
(2)
.قولُهُ : ( التَّبْيِيتُ ) أَيْ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَنَا كَالْحَنَابِلَةِ وَالْحَنَفِيَّةِ وَإِنْ اكْتَفَى الْحَنَفِيَّةُ بِالنِّيَّةِ نَهَارًا لِأَنَّ كُلَّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَلِذَلِكَ تَعَدَّدَتْ الْكَفَّارَةُ بِالْوَطْءِ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْهُ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ ، وَعِنْدَنَا لِلَّيْلَةِ الْأُولَى فَقَطْ .
(Keterangan niat di malam hari) artinya pada setiap malam dibulan Ramadhan menurut kalangan Kami (Syafi’iyyah) seperti pendapat kalangan Hanabilah dan Hanafiyyah hanya saja dikalangan Hanafiyyah menganggap cukup bila niatnya dikerjakan pada siang hari.
Sebab setiap hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah tersendiri karenanya diwajibkan membayar banyak kaffaarat (denda pelanggaran) sebab senggama disiang hari disetiap hari-hari ramadhan namun disunahkan dimalam pertama pada bulan ramadhan niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil kemanfaatan bertaqlid pada pendapat Imam Malik yang menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya disemua malam ramadhan dan bagi kami (Syafi’iyyah) niat yang demikian hanya mencukupi pada malam pertama saja. [ Hasyiyah al-Qolyuby V/365 ].

Rincian Biaya Pendaftaran Asrama Sunan Ampel 2018/2019

Rincian Biaya Pendaftaran Asrama Sunan Ampel




RINCIAN BIAYA PENDAFTARAN
ASRAMA SUNAN AMPEL
PONDOK PESANTREN MAMBA'UL MA'ARIF DENANYAR JOMBANG
TAHUN 2018-2019

ASRAMA PUTRA
A. PENDAFTARAN PONDOK
: Rp. 150.000,-

B. DAFTAR ULANG SANTRI BARU
    1. Orientasi Santri Baru
: Rp. 100.000,-
    2. Dana Pemeliharaan Gedung
: Rp. 300.000,-
    3. Sewa Almari (1 tahun)
: Rp. 100.000,-
    4. Dana Kegiatan Pendidikan (1 tahun)
: Rp. 200.000,-
    5. Jam'iyah Kubro (Yayasan)
: Rp.   50.000,-
    6. Seragam Almamater
: Rp. 100.000,-

   Jumlah
: Rp. 850.000,-

C. PEMBAYARAN BULANAN (SYAHRIAH)
    1. Uang Makan 1 Bulan (2x sehari)
: Rp. 300.000,-
    2. Operasional Pondok 1 Bulan
: Rp. 120.000,-
    3. Loundry Seragam
: Rp.   30.000,-

   Jumlah
: Rp. 450.000,-

TOTAL
: Rp. 1.450.000,-


ASRAMA PUTRI

1.
Pendaftaran Pondok
: Rp.   150.000,-
2.
Orientasi Santri Baru
: Rp.   100.000,-
3.
Saran Prasarana
: Rp.   300.000,-
4.
Sewa Almari (1 Tahun)
: Rp.   100.000,-
5.
Dana Kegiatan Pendidikan (1 Tahun)
: Rp.   150.000,-
6.
Uang Makan 1 Bulan (3X Sehari)
: Rp.   450.000,-
7.
Syahriah Pondok 1 Bulan
: Rp.   120.000,-
8.
Kerudung Almamater
: Rp.     60.000,-
9.
Jam’Iyyah Kubro
: Rp.     50.000,-
10.
Kasur
: Rp.   170.000,-
11.
Al-Qur’an
: Rp.     55.000,-


TOTAL
: Rp.  1.705.000,-



SOLUSI "DELIMA ORANG TUA MELIHAT PRILAKU SISWA JAMAN SEKARANG"

SOLUSI "DELIMA ORANG TUA MELIHAT PRILAKU SISWA JAMAN SEKARANG"


Judul diatas mungkin terlihat privokatif, namun itulah kenyataan yang sering terjadi sekarang ini dimana orang tua merasakan perbedaan prilaku anak di masanya dulu dan sekarang.
Gambaran kecil dimana sekarang siswa kelas dasar sudah mengenal dan berani tampil bergandeng mesra dengan sang pacar,   belum lagi fenomena sepeda motor satu paket dengan syarat masuk dikalangan siswa menengah pertama(SMP) membuat beban orang tua bertambah demi sang anak tetap nyaman dan lanjut bersekolah, kebebasan adalah tuntutan selanjutnya yang membuat orang tau kebingungan karena sang anak yang sudah menginjak kelas menengah atas(SMA) merasa telah dewasa, punya pemikiran dan tujuan hidup mandiri, berangkat pagi dengan teman-teman lalu pulang entah sore atau malam dengan alasan yang bermacam-macam sudah biasa terjadi.
Orang tua hanya menyimpan kekhawatiran seraya berharap semoga anaknya baik-baik dalam sekolah dan pergaulan tanpa bisa melarang bila ada hal yang ganjal karena takut anak menjadi liar atau ancaman tidak melanjutkan pendidikan.
Saya tidak bercerita tentang kenakalan remaja karena kenakalan remaja menurut orang tua bagi mereka anak dizaman sekarang adalah hal yang biasa dan tidak disebut dengan kenakalan tetapi hanya kebebasan berekspresi. Dan sebagai orang tua menjadi delematis melihat lingkungan remaja sekarang ini.
Kalau orang tua sekarang berfikir bagaimana anaknya mendapatkan lingkungan yang baik dan ideal maka jawaban dari hal tersebut tidak lain terdapat di pondok pesantren, kenapa pondok pesantren tidak yang lain, karena hanya dipondok pesantrenlah prilaku dan kegiatan anak sejak bangun pagi hingga malam istirahat semuanya diatur, terkontrol dan diawasi, sehingga sangat sulit bagi anak untuk berbuat bebas diluar kendali, semua harus sesuai dengan apa yang telah ditentukan,  itulah salah satu alasan mengapa lingkungan yang baik mudah tercipta di pondok pesantren, dan terbukti sekarang banyak tokoh negeri ini mengatakan bahwa pondok pesantren adalah benteng terakhir generasi muda bangsa indonesia, dan karenanya sebagai orang tua mengajak untuk jangan sungkan memasukan anak-anaknya kedalam pondok pesantren sebelum terlambat, kita semua berharap anak kita mendapatkan pendidikan yang baik dan lingkungan pergaulan yang baik bukan, maka pondok pesantren adalah jawabnya.

Oleh. Orang tua santriasa




Sebenarnya Tanggal Berapa Sunah Puasa Rojab itu ??


Diskusi kecil antar teman itulah mukin yang tepat untuk mengwali tulisan ini, berawal beberapa hari yang lalu ketika saya ditanya oleh seorang teman tentang “kesunahan puasa dibulan Rojab itu kapan? apakah tanggal 1 Rojab atau tanggal berapa ?”.mendapat pertanyaan demikian saya pun sejenak teringat tentang pengalaman pribadi sewaktu akan memasuki bulan rajab yakni dimana guru ataupun orang tua mengingatkan untuk berpuasa di hari pertama bulan Rojab, dari situ saya sedikit ingin menjawab secara spontan bahwa puasa sunah dibulan Rojab itu ya diawal bulan saja, namun hal tersebut urung terjadi dan saya lebih tertarik membahas terlebih dahulu dengan kepada teman saya yang lebih faham kalau tidak ingin dikata teman saya ini senior dipondok, singkat kata dari  bahasan kami berdua dapatlah kesimpulan yang lebih banyak dari nukilan kitab Fathul Mu’in, karena kitab tersebut tentu tidak asing bagi kami para santri. Dengan kata-kata ala santri jaman now yang penasaran akan hukum puasa kami simpulkan sebagai berikut:
Bahwa puasa dibulan rajab itu hukumnya sunah[1] dan tidak tertentu hanya puasa diawal ataupun akhir bulan saja, meskipun demikian kita dapat berpuasa Rojab dengan memakai ketentuan hari-hari yang utama untuk berpuasa pada setiap bulan atau setiap pekan yang telah diutarakan oleh Imam al-Ghozali “Hari utama dianjurkan puasa pada setiap pergantian bulan, yaitu hari awal, pertengahan, dan akhir bulan. Pertengahan bulan adalah ayyamul bidh, yaitu tanggal 13,14, dan 15. Sementara hari utama dianjurkan puasa pada setiap pergantian pekan, yaitu Senin, Kamis, Jumat. Itu semua hari-hari utama yang dianjurkan untuk diisi dengan puasa dan memperbanyak amal baik lainnya karena kelipatan ganjarannya sebab keberkahan waktu utama tersebut[2]
Adapun kata Rojab sendiri merupakan derivasi/mustaq dari kata “tarjib” yang berarti memuliakan. Masyarakat Arab zaman dahulu memuliakan Rojab melebihi bulan lainnya. Rojab biasa juga disebut “Al-Ashobb” karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Ia bisa juga dipanggil “Al-Ashomm” karena tidak terdengar gemerincing senjata untuk berkelahi pada bulan ini. Boleh jadi juga disebut “Rojam” karena musuh dan setan-setan itu dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.[3]
Kemudian juga ada hadist Nabi Saw yang bisa  dijadikan fadhoilul a’mal sebagai berikut : Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana  berpuasa selama setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, maka Allah akan mengabulkan semua permintaannya[4].
Simpulnya, puasa Rojab tidak ada batasan hari apa, atau berapa hari, bisa satu hari, tiga hari, satu minggu, dua minggu, atau bahkan satu bulan penuh, menyesuaikan dengan batas kemampuan seseorang, dan juga dapat memilih berpuasa dihari-hari tertentu yang memang diutamakan bukan hanya dibulan Rojab. akhir kata koreksi bila ada kesalahan karena ini hanya diskusi kecil level santri yang jauh dari pemahaman yang mendalam, yang ditutup dengan segelas kopi hitam seperti biasa. Semoga bermanfaat.
.


Oleh. Santriasa dan pengurus diniyah asrama sunan ampel




[1] . أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم. وأفضلها المحرم، ثم رجب، ثم الحجة، ثم القعدة، ثم شهر شعبان (فتح المعين للشيخ زين الدين المليباري الشافعي، ص 59)
قيل: ومن البدع صوم رجب، وليس كذلك بل هو سنة فاضلة، كما بينته في الفتاوي وبسطت الكلام عليْه(إعانة الطالبين - ج 1 / ص 313)
(وقوله: أفضل الشهور إلخ) قد نظم ذلك بعضهم بقوله: وأفضل الشهور بالإطلاق: * * شهر الصيام، فهو ذو السباق فشهر ربنا هو المحرم * * فرجب، فالحجة المعظم فقعدة، فبعده شعبان * * وكل ذا جاء به البيان (قوله: الأشهر الحرم) هي أربعة: ثلاثة منها سرد، وهي ذو القعدة وذو الحجة ومحرم، وواحد منها فرد وهو رجب. وإنما كان الصوم فيها أفضل، لخبر أبي داود وغيره: صم من الحرم واترك، صم من الحرم واترك، صم من الحرم واترك.وإنما أمر المخاطب بالترك لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم، كما جاء التصريح به في الخبر.أما من لا يشق عليه، فصوم جميعها له فضيلة.اه. (إعانة الطالبين - ج 2 / ص 307)

[2] . وأما ما يتكرر في الشهر فأول الشهر وأوسطه وآخره ووسطه الأيام البيض وهي الثالث عشر والرابع عشر والخامس عشر وأما في الأسبوع فالإثنين والخميس والجمعة فهذه هي الأيام الفاضلة فيستحب فيها الصيام وتكثير الخيرات لتضاعف أجورها ببركة هذه الأوقات (احياء علوم الدين ج. 3/ ص. 432)

[3] . (قوله ثم رجب) هو مشتق من الترجيب، وهو التعظيم لأن العرب كانت تعظمه زيادة على غيره. ويسمى الأصب لانصباب الخير فيه. والأصم لعدم سماع قعقعة السلاح فيه. ويسمى رجم ـ بالميم ـ لرجم الأعداء والشياطين فيه حتى لا يؤذوا الأولياء والصالحين(إعانة الطالبين - ج 2 / ص 307)

[4] . من صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ، ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب جهنم ، ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة ، ومن صام منه عشرة لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه (رواه الطبراني)