Santri dibekali kemampuan memimpin tahlil yang berguna ketika terjun di masyarakat. Penampilan grup al banjari Sunan Ampel Putra, yang telah menjuarai berbagai festival. Kegiatan orientasi santri baru diadakan setahun sekali. Kebersamaan santri yang tidak terlupakan.

Kamis, 16 Oktober 2014


Faiq dan Nur Laili: Juara Khitobiyah Kubro Oktober 2014

Alhamdulillah, khitobiyah kubro pada malam Jum'at, 16 Oktober 2014 berjalan dengan lancar. Acara yang menjadi agenda pengurus departemen pendidikan ini digelar sehabis Isya.

Peserta khitobiyah kubro edisi Oktober 2014 sebagai berikut:
  1. Rafli Akbar Ardhiansyah (1 tsanawiyah)
  2. Cahya Dwi Hidayati (1 tsanawiyah)
  3. M. Faiq Dzikrullah (2 tsanawiyah)
  4. Amaliyah Lailatul (2 tsanawiyah)
  5. Zaki Afkar naja (3 tsanawiyah)
  6. Dinda Putri S. (3 tsanawiyah)
  7. Shofiyatul Mahmudah (1 aliyah)
  8. Iqbal Maulana Mubarok (1 aliyah)
  9. Suci Handari (2 aliyah)
  10. Abu Alif (2 aliyah)
  11. Laili Cahyaningrum (3 aliyah)
  12. Nur Laili Romadhona (3 aliyah)
  13. M. Tanzilul Furqon (3 aliyah)
  14. M. Khariri Firdaus (3 aliyah)

Yang bertindak sebagai juri pada acara yang berlangsung di halaman Asrama Sunan Ampel adalah Ustadz Zainul Mujib dan Ustadz Hasan Ismail. Ustadz Mujib sebagai juri naskah, dan Ustadz Hasan sebagai juri penampilan.
Khariri Firdaus - Salah satu peserta bahagia
Khariri Firdaus - Salah satu peserta bahagia

Meskipun ada 1 peserta yang terkena diskualifikasi - yaitu M. Tanzilul Furqon - karena pulang, tidak membuat juri ragu menentukan juara. Setelah disepakati dewan juri, Faiq Dzikrullah (75,5 poin) didaulat menjadi terbaik 1 tingkat tsanawiyah. Sedangkan Nur Laili Romadhona (75 poin) berhasil menjadi terbaik 1 tingkat aliyah.

Berikut adalah rekapitulasi nilai peserta tingkat tsanawiyah:

  • Rafli Akbar A. (63,5 poin)
  • Cahya Dwi Hidayati (69 poin)
  • M. Faiq Dzikrullah (75,5 poin) - terbaik 1
  • Amaliyah Lailatul (72,5 poin)
  • Zaki Afkar Naja (64,4 poin)
  • Dinda Putri S. (61,5 poin)

Faiq Dzikrullah - Terbaik 1 tingkat tsanawiyah
Faiq Dzikrullah - Terbaik 1 tingkat tsanawiyah

dan berikut adalah rekapitulasi nilai peserta tingkat aliyah:

  • Shofiyatul Mahmudah (65,5 poin)
  • Iqbal Maulana Mubarok (68,5 poin)
  • Suci Handari (73 poin)
  • Abu Alif (67 poin)
  • Laili Cahyaningrum (66 poin)
  • Nur Laili Romadhona (75 poin) - terbaik 1
  • M. Tanzilul Furqon (0 poin) - diskualifikasi
  • M. Khariri Firdaus (64,5 poin)

Nur Laili Romadhona - Terbaik 1 tingkat aliyah
Nur Laili Romadhona - Terbaik 1 tingkat aliyah

Selamat untuk para juara. :-)

Acara ini diliput secara langsung, dan langsung di-post pada akun twitter Asrama Sunan Ampel. Follow twitter-nya agar Anda tidak ketinggalan kabar terbaru secara langsung di Asrama Sunan Ampel.

Senin, 13 Oktober 2014


22 Pasukan Sholawat Nariyah Sunan Ampel Putra Terbentuk!

Asrama Sunan Ampel Putra memiliki kegiatan yang intruksional, yaitu “nariyahan” (dzikir bersama membaca sholawat nariyah). Kegiatan ini hanya dilakukan jika telah diutus oleh Pengasuh. Kegitan ini hanya diikuti oleh santri yang terpilih.

Beberapa hari yang lalu, KH. Imam Haromain Asy'ari, M.Si. - selaku Pengasuh – telah mengutus mencarikan anggota. Pesan tersebut disampaikan kepada pembina, lalu pembina memilih 22 santri yang dijadikan jama'ah sholawat nariyah.


Berikut daftar santri tersebut:



  1. A. Fahruddin
  2. Abid Mufassir
  3. Affan Muhammad
  4. Ahmad Nashih
  5. Aji Kurniawan
  6. Ali Maulana Kilwo
  7. Azmi
  8. Dzikri
  9. Faiq Dzikrullah
  10. Fatih Aslamuddin
  11. Fauzi
  12. Fikri Akbaruddin
  13. Ismail Dwi Prilaksono
  14. Ja'far
  15. Lukman
  16. M. Abdul Hafizh
  17. M. Elma Fikri Alfan Ni'am
  18. M. Irsyadul Ibad
  19. M. Zulal Arwa
  20. Rafli
  21. Yahya Thobroni
  22. Zulham
Pasukan tersebut bersifat wajib ikut. Jadi jika tidak ada udzur, harus mengikuti. Namun jika ada udzur, harus mencari atau dicarikan pengganti.

Senin, 22 September 2014


Simpanan Santri Sunan Ampel: Layanan Simpan di Asrama Sunan Ampel

Pada hari Rabu, 17 September 2014, pembina Asrama Sunan Ampel putra telah membuka layanan simpanan. Layanan yang berpusat di kantor pembina Sunan Ampel putra ini dinamakan Simpanan Santri Sunan Ampel (SSSA).

Latar belakang dibuatnya layanan ini adalah karena banyak yang menitipkan uang kepada pembina, baik itu santri maupun wali santri. Setelah diskusi singkat, dewan pembina sepakat membuat layanan simpanan agar lebih terorganisir.

Para santri yang belum membuka simpanan sebaiknya segera bergabung, karena memang ada beberapa keuntungannya. Antara lain:
  • Lebih aman: Uang disimpan di kantor pembina, sehingga lebih aman dari jangkauan tangan-tangan jahil. Uang juga hanya bisa diambil setelah pembina menandatangani buku simpanan yang harus dibawa saat transaksi.
  • Memudahkan mengatur keuangan: Dengan menitipkan, secara otomatis santri dapat dicegah membeli sesuatu yang tidak benar-benar diperlukan. Karena jika pengambilan melebihi jatah harian (Rp. 15.000,-), harus disertai sebab pengabilan uang.
  • Aliran uang lebih jelas: Ketika membuka simpanan, santri otomatis mendapat buku simpanan. Pada buku simpanan tersebut tercatat aktivitas keuangan santri setiap hari. Apabila buku tabungan hilang pun, SSSA sudah memiliki data lengkap transaksi yang dilakukan.
Jika ada santri yang berminat, tinggal datang ke kantor pembina dengan membawa sejumlah uang. Uang tersebut langsung diisikan ke saldo santri tersebut setelah dipotong Rp. 2.000,- untuk biaya administrasi. Saldo tersebut dapat diisi berapa saja, dan dapat diambil kapan saja asal tidak melebihi jatah harian.

Asrama Sunan Ampel selalu mengembangkan layanan dan fasilitas untuk para santri. Bergabunglah dengan para santri disini dengan mendaftarkan diri diAsrama Sunan Ampel Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang.

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Jiwa-Jiwa yang Bertaburkan Kasih Sayang

Bismillah. Alhamdulillah.
Sebutan lain dari Ramadhan sebagai bulan kasih sayang, ternyata bermula dari sebuah kisah. Pada saat perang Yarmuk usai berkecamuk, seorang sahabat yang bernama Ibnu Jahm berkeliling mencari sepupunya yang sedang terluka parah. Lalu setangkup air yang sejak tadi didekapnya erat-erat itu, segera disodorkannya kepada keponakannya tersebut – yang setiap jengkal tubuhnya penuh dengan goresan luka dan lumuran darah.
Tapi keponakannya itu justru menampiknya dan berkata: “Berikanlah air ini kepada lelaki itu,” sambil jemarinya menuding kepada lelaki yang dimaksudkannya tersebut. “Sebab dia lebih membutuhkannya dari pada aku. Lantaran dia tengah berjuang antara hidup dan kematiannya.” Lalu Ibnu Jahm pun menuju ke lelaki itu. Setelah diulurkannya setangkup air tersebut, lelaki itu pun juga menampiknya sambil berkata: “Berikanlah air itu kepada saudaraku seiman seperjuangan yang berada di sana itu. Sebab dia kelihatan lebih membutuhkannya ketimbang aku.”
Maka sahabat itu pun pergi mendatangi pria yang dimaksud oleh lelaki itu. Ketika diberikan air terebut, pria itu pun juga melakukan hal yang sama. Maka Ibnu Jahm pun berpindah dari lelaki yang satu menuju ke pria yang lain. Dan akhirnya dia kembali lagi kepada sepupunya, yang kala itu sudah dalam keadaan wafat; pulang ke rahmatullah menemui Dzat yang senantiasa menaburkan kasih sayang kepada para hambaNya.

Minggu, 21 September 2014


Tausiyah K.H. Imam Haromain: Bulan Terkumpulnya Segala Kebajikan

Bismillah. Alhamdulillah.
Bagi siapa yang bersuka cita dengan hadirnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari sengatan api neraka.”
Sabda Rasulullah SAW ini, menandakan betapa agungnya bulan Ramadhan itu. Sebab di dalam bulan tersebut, pintu-pintu surga dibukanya lebar-lebar. Sedangkan pintu neraka ditutupnya rapat-rapat dan syetan-syetan dibelenggu. Segala amal perbuatan dimuliakan. Daki-daki yang mengotori hati dibersihkan. Dan bagi yang menjalankan puasa di dalamnya, akan dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga janjiNya.
Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia. Di awalnya penuh limpahan berkah, di tengah-tengahnya dicurahkan maghfirah ampunan dariNya. Sedangkan dipenghujungnya adalah berupa pembebasan dari api neraka. Sungguh, ini adalah bulan yang segala amal kebajikan dilipatgandakan dengan hitungan yang tak terhingga. “Puasa itu milikKu. Dan aku sendiri yang akan menggandakan pahalanya dengan berlipat-lipat,” firman Allah dalam Hadist Qudsi.

Sabtu, 20 September 2014


Tausiyah K.H. Imam Haromain: Selalu Gelisah Sebelum Mengulurkan Derma

Bismillah. Alhamdulillah.
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, karena dengan zakat itu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu bisa memberikan ketenteraman bagi jiwa mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (at-Taubah:103)
Masih terasa ringankah berzakat di zaman mutakhir seperti ini? Dimana orang lebih merasa, bahwa harta benda yang melimpah adalah merupakan hasil jerih payahnya sendiri daripada merupakan pemberian anugerah berkah dariNya? Masih dengan gairahkah ketika petani di sawah ladang mengulurkan zakat setiap panen – 10 persen bagi yang proses pengairannya begitu mudah didapatkan dan 5 persen bagi yang proses bercocok tanamnya dilaluinya dengan berat? Masih dengan senyumkah ketika para pengusaha, pedagang dan profesi lainnya – yang nishabnya telah mencapai seharga 94 gram emas – menunaikan 2,5 persen zakatnya setiap tahun?
Bagi imannya yang masih tertancap di lubuk hati, tentu tak akan merasa berat sedikitpun ketika sebagian hartanya yang menumpuk dialirkan kepada kaum fakir miskin. Bahkan dirinya merasa, bahwa itu bukanlah sebuah pemberian. Sebab zakat adalah merupakan hak bagi fakir miskin, karena dari tumpukan harta benda yang menggunung milik para aghniya’ adalah merupakan hartanya jua.

Jumat, 19 September 2014


Tausiyah K.H. Imam Haromain: Menyongsong Hari di Seberang Kematian

Bismillah. Alhamdulilah.
Ada petuah sederhana dari referensi purba; “Hiduplah sesukamu. Namun ingat, dirimu akan mati jua.” Betapa agungnya jika nasihat singkat ini, kita jadikan layang wasiat untuk menemani aktivitas dalam kesibukan hari-hari yang makin padat. “Iktsiru dzikra hadamil ladz-dzat – perbanyaklah mengingat yang menghancurkan nikmat (kematian),” Sabda Nabi SAW.
Sebuah kesuksesan – berupa tingginya kepangkatan dan jabatan, kekayaan yang melimpahruah atau yang lainnya -, jika diraih tanpa pernah mengingat akan kematian, tentulah akan berujung pada jurang kenistaan. Bukankah telah banyak dalam kanvas kehidupan ini orang yang angkuh karena hartabendanya? Tidakkah banyak pula orang yang bersikap adigang-adigung-adiguno lantaran kekuasaannya? Bahkan tidak sedikit juga orang yang justru menjadi jumawa lantaran kepintarannya.
Padahal beragam kesuksesan yang penuh gemerlap itu, kita cuma bisa menikmatinya hanyalah sepanjang usia. Dengan kata lain, segala rupa kenikmatan itu akan berhenti pada titik tapal batas kematian. Namun menurut al-Qur’an, ada orang yang hidupnya tak pernah mati-mati; dialah orang-orang yang senantiasa berjuang di jalanNya. Bak kata pepatah “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.”
Seperti halnya para pejuang pendahulu kita, yang begitu heroik mempertahankan kemerdekaan dengan darah dan nyawa. Juga para ulama’ kita yang telah mengabdikan seluruh potensinya demi agama, nusa-bangsa, perbaikan umat dan nilai-nilai etik kemanusiaan. Sehingga meskipun sudah lama tiada, namanya begitu harum dan mewanginya semerbak hingga di kemudian hari.

Kamis, 18 September 2014


Tausiyah K.H. Imam Haromain: Jika Waktu Bergulir Tanpa Mengalir ke JalanNya

Bismillah. Alhamdulillah.
Ada pepatah Arab yang mengandaikan waktu dengan pedang. Jika engkau lengah, maka ia akan segera menebas lehermu sendiri. Oleh karenanya, berpandai-pandailah mengatur waktu dan jangan sekali-kali merehkannya. Maka satu hal yang tak boleh kita abaikan, adalah menyediakan waktu untuk mencari ilmu, untuk keluarga dan untuk beribadah.
Dalam rentang waktu 24 jam, betapapun kita didera kesibukan yang makin berjubel, lakukanlah sejenak untuk meraup ilmu. Sebab dengan ilmulah manusia bisa lebih mengerti dan dapat mengembangkan diri. Lebih-lebih bagi anak generasi bangsa, yang kelak akan mewarisi kepemimpinan negeri ini. Jangan pernah biarkan waktu kita berlalu begitu saja dan kosong dari ilmu pengetahuan. Sebab ilmu adalah cahaya, yang setiap saat memancar menerangi jiwa dan kehidupan. Tanpa ilmu pengetahuan, maka hari depan yang kita gambar akan semakin tanpak meremang – sehingga berjalan menuju rel kehancuran.

Rabu, 17 September 2014


Tausiyah K.H. Imam Haromain: Pandangan yang Mengingkari Mukjizat Kenabian

Bismillah. Alhamdulillah.
Di samping sebagai wisata religi dan training kedirian Rasulullah, ternyata peristiwa isra’ mi’raj juga menjadi batu ujian tersendiri bagi umatnya. Terbukti, tak sedikit dari sahabat yang patuh terhadap Nabi SAW tiba-tiba saja berpaling kembali. Bagi logika zaman itu, peristiwa itu masih menyisakan berjuta pertanyaan.
Sebab sebagaimana mungkin seseorang bisa menempuh perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dan bahkan melesat kelangit tertinggi hanya dalam waktu yang cuma sekejap? Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah menyebutkan; ketika Rasulullah kembali tempat tidurnya masih hangat, dan temayan air yang jatuh ketika beliau di bawa pergi jibril sama sekali belum tumpah.
Anehnya, kini pertanyaan-pertnyaan semodel itu masih saja berulang. Betapa mungkin seseoraang melesat melebihi kecepatan cahaya – yang merupakan kecepatan tertinggi dalam kontinum empat dimensi? Bukankah tubuh Rasul yang bersifat materi akan terbakar ketika bergesekan dengan lapis-lapis atmosfir? Bagamana pula mungkin manusia sanggup melepas keterikatannya dengan hukum gravitasi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tentu menyiratkan bahwa kita memang tak demikian jeli untuk membedakan antara yang mustahil bagi akal dan yang belum di mengerti oleh akal, antara yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional. Ada ungkapan menarik dari Kierkegaard – seorang tokoh eksistensialisme; bahwa seseorang harus percaya bukan karena dia tahu, tetapi karena karena dia tidak tahu.

Selasa, 16 September 2014


Tausiyah K.H. Imam Haromain: Sang Pembawa Obor Penerang

Bismillah. Alhamdulillah.
Madrasah yang unggul dan ideal, bisa dimulai dari lingkungan yang bersih. Sebab kebersihan dapat menjadi pertanda dari kedisiplinan, religiusitas, kesungguhan dan juga kedamaian. Sebuah pepatah Arab mengatakan, bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Ungkapan itu diinspirasi oleh Hadist: “Kesucian merupakan bagian dari iman.”
Dari ruang belajar yang tampak menawan, tentulah akan mudah memotivasi peserta didik untuk menggapai kecerdasan. Dari lingkungan yang bersih, akan membuat mereka merasa nyaman dan merasa betah di dalamnya. Kondisi yang bersih memikat, tentulah akan pula mendorong untuk bersenantiasa dalam kondisi bersih pula. Dan dari ruang belajar yang bersih, lingkungan yang bersih, serta kondisi jiwa yang bersih, akan sangat mempermudah para siswa untuk menggapai kecemerlangan pikiran.
Tapi bagi madrasah, kecemerlangan pikiran saja kiranya tak cukup. Sebab disamping unggul secara pemikiran, generasi madrasah haruslah unggul pula secara skill, mental dan spiritual. Itulah sebabnya penguatan aqidah dan pembetukan akhlaqul karimah, adalah merupakan suatu keniscayaan yang tak bisa diabaikan. Dengan aqidah yang kuat, mereka akan senantiasa berhubungan dengan Allah Sang Penciptanya. Dan dengan aklak yang mulia, mereka akan gemar menabur kedamaian dan kasih sayang terhadap sesama. Maka dengan itulah, peserta didik kita akan dapat menampik segala tindak asusila, segala bentuk amoral dan segala bentuk asosial.