• Brosur MAN Denanyar Jombang 2014-2015

  • NILAI LEBIH SEKOLAH DI PONDOK PESANTREN

  • SEPUTAR PENDIDIKAN ALA PESANTREN

  • NASHOIHUD DINIYAH ( Oleh K.H. Ahmad Wazir Alie, Lc. )

Tausyiah K.H. Imam Haromain: Sebaik-Baik Mutiara Perhiasan Dunia

Bismillah. Alhamdulillah.
Di tengah retasnya moralitas pergaulan antara lelaki dan kaum perempuan, mungkin tak ada salahnya kita menengok kembali sebuah pertemuan sakral yang bernama pernikahan. Sebab Islam sangat menekankan akan pentingnya jalan pernikahan itu. Saking pentingnya, sehingga dalam kitab-kitab fiqih sepertiganya khusus membahas soal pernikahan. “Nikah itu termasuk sunnahku,” kata Rasul. “Bagi siapa yang tak mengikuti sunnahku, maka dia bukanlah dari golonganku.
Sebuah hidup bersama – dengan bunga-bunga cinta yang betapapun semerbak harumnya, jika dijalin tanpa ikatan tali pernikahan (mitsaqan ghalidan), maka lambat ataupun cepat akan berujung pada kenistaan. Tak hanya cecaran sosial yang bakal diterimanya, namun juga keresahan psikologis yang meruwetkan jiwa. Sebab sebuah kehidupan yang selalu bergelimang dengan noda dan dosa, akan senantiasa pula bermuara pada kegundahan yang tiada tara.

Tausyiah K.H. Imam Haromain: Mengikat Tali Perjanjian yang Agung

Bismillah. Alhamdulillah.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari sejenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Inspirasi utama yang bisa kita petik dari ayat di atas, bahwa Allah-lah yang menentukan pasangan hidup kita. Para mufassir memaknai kalimat an khalaqa lakum min anfusikum azwaja, sebagai hak mutlak pregoratif Allah SWT. Sehingga siapapun pasangan hidup yang telah diberikan buat kita, semata itu merupakan amanah dari-Nya yang wajib kita rawat dengan sebaik-baiknya.
Allah SWT mengikat setiap pasangan itu dengan tali-temali yang sangat kokoh (mitsaqan ghalidan). Lalu ditumbuhkan-Nya darinya suatu daya tarik keindahan mawaddah wa rahmah; sebuah cinta kasih dan rasa sayang. Itulah modal teragung untuk bisa membawa bahtera pernikahan ini menuju suatu pulau kedamaian; yang tenang, tenteram dan sejahtera dengan penuh keselamatan.

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Memanggul Dosa Orang yang Difitnah

Bismillah. Alhamdulillah.
Pada zaman yang sudah serba kelabu seperti saat ini, kiranya kita memerlukan sebuah kewaspadaan yang rangkap. Sebab sikap kehati-hatian yang kita miliki, sering kandas di tengah gelombang hidup yang alurnya serba tidak terduga.
Tanpa kewaspadaan semacam ini, kiranya diri kira acapkali lepas tak terkendali. Sebab lingkungan hidup sekitar kian tak kondusif bagi tumbuhnya nurani kemanusiaan. Betapa gampang orang saling melontarkan caci-maki, begitu mudah orang mengobarkan api fitnah, serta tak terasa diam-diam kita telah memakan harta yang menjadi hak orang lain.

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Anugerah yang Mengalir di Jalan Pemaafan

Bismillah. Alhamdulillah.
Jika Anda marah -kata salah satu teori psikologi, maka luapkanlah. Andaikata ingin berteriak, maka berteriaklah sekencang-kencangnya. Biar beban yang mengendap di hati bisa mencuat keluar, agar sesuatu yang menyumbat pada jiwa dapat menjadi longgar kembali. Tetapi jangan lantas berhenti di situ saja pemahaman kita. Sebab jika setiap kali marah harus berteriak-teriak, tentu itu akan mendorong seseorang menuju sakit jiwa.
Setelah perasaan plong, ajaklah teman sejawat yang persahabatannya sejati untuk duduk satu meja; ngobrol bersama, diskusi bersama, memecahkan persoalan yang tengah Anda hadapi. Sebab menuangkan beban jiwa semacam itu, semata hanyalah proses supaya tingkat kemarahan kita mereda. Bukankah rasa amarah yang masih mengendap dan tertekan di jiwa, akan membuat seseorang timpang dalam berfikir? Lebih menawan lagi, jika kita mampu menuruti petuah Rasulullah SAW. Beliau menyerukan, jika diri kita tengah dalam kondisi marah, maka maafkanlah orang yang membuat Anda marah itu.

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Memperindah Kearifan DIri dengan Rendah Hati

Bismillah. Alhamdulillah.
Kisah Danau Toba yang sangat terkenal itu, ternyata bermula dari raibnya sikap rendah hati. Syahdan, ada seorang pemuda miskin yang hidupnya sehari-hari ada di sawah ladang. Suatu ketika, tiba-tiba ada seekor ikan besar yang meloncat ke tempat yang biasanya dipergunakan untuk mengangkut air. Pemuda itu sangat terpesona melihat ikan yang begitu jelita.
Maka disentuhlah ikan tersebut. Dan terjadilah suatu keajaiban yang sangat luar biasa. Seketika ikan itu berubah menjadi seorang putri dengan paras menawan. Singkat cerita, sang pemuda itu berkehendak menyuntingnya. Bagai gayung bersambut sang putri pun menerima lamarannya. Tapi ada satu syarat yang harus dipenuhinya; sepanjang hidup dirinya tak akan pernah mengungkapkan asal-muasal sang putri.
Pernikahan pun terjadi. Lalu dikaruniailah keduanya seorang bocah. Sayangnya, buaian hati itu beranjak menjadi anak yang bebal dan rakus. Sehari-hari kerjanya cuma makan dan terus saja makan. Suatu hari, saat sang bapak pulang dari sawah ladang, perutnya meradang. Rasa lapar benar-benar menjarah dirinya lantaran kerja kerasnya. Tapi beapa terkejutnya dia saat mendapati bahwa jatah makannya ludes disantap anaknya.

Tausyiah K.H. Imam Haromain: Mengenali Diri di Padang Arafah

Bismillah. Alhamdulillah.
Padang pasir terbuka dan membentang luas itu bernama Arafah. Letaknya berada di sebelah Timur sekitar 25 Km dari kota suci Mekkah. Di belakangnya dikelilingi bukit bebatuan, yang membentuk setengah lingkaran. Di tempat inilah, pada setiap tanggal 9 Dzulhijjah berjuta umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul. Di padang ini pula, tepatnya di Jabal Rahmah, dulu Adam dan Hawa kembali saling bertemu.
Arafah merupakan tempat utama bagi keberlangsungan ibadah haji. Setiap jamaah wajib melakukan wuquf – yang secara harfiah berarti berdiam diri – di tempat itu. Wuquf di Arafah, ditujukan untuk kita berhenti sejenak untuk mengenali diri kembali. Dengan kata lain, kita melakukan instropeksi pada diri sendiri dan juga lingkungan sekitar. Tanpa mengenali diri sendiri, rasanya mustahil seseorang akan dapat mengenali Rabbnya. Tepat apa yang senantiasa diserukan oleh para ahli tasawuf: “Bagi siapa yang mengenali dirinya, maka dia akan mengenali pula siapa Tuhannya.”
Padang Arafah bagai sebuah replika Padang Mahsyar dimana manusia dibangkitkan kembali dari tidur panjang kematiannya. Itulah saat ketika manusia memiliki posisi yang sama di hadapan Tuhannya. Hanya kualitas keimanannya yang membedakan di antara mereka. Itulah sebabnya, pada saat wuquf kita diperintahkan untuk memperbanyak berdoa, taqarrub dan bertaubat demi memohon ampunan-Nya. Juga berdzikir, bertakbir, bertahmid dan bertahlil, serta banyak-banyak melantunkan irama al-Qur'an. Dan jangan sekali-kali melakukan satu perbuatan, yang justru merusak kesucian dari keheningan wuquf yang bening itu.

Tausyiah K.H. Imam Haromain: Memegang Teguh Pesan Kejujuran

Bismillah. Alhamdulillah.
Ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani meminta izin kepada ibunya untuk menuntut ilmu ke Baghdad, dirinya  meminta dengan nada serius kepada sang Ibunda: “Maka titipkanlah diriku kepada Allah, wahai ibunda.” Kemudian wanita itu pun bertutur kepada anaknya: “Wahai anakku, sesungguhnya ayahmu telah meninggalkan warisan sebanyak 80 dinar. Karena engkau masih memiliki seorang saudara, maka yang 40 dinar untuk kamu. Sedangkan separuhnya lagi untuk saudaramu.”
Maka dimasukkanlah uang dinar tersebut ke dalam sebuah kantung yang dijahit tepat di bawah ketiak baju sang anak. Lalu perempuan itu pun berkata: “Wahai Abdul Qadir, kamu harus senantiasa berkata benar dan selalu berperilaku jujur. Dan jangan sekali-kali kamu melalaikan pesan ibu ini.”
Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani pun menganggukkan kepala dengan mantap. Lalu sambil mencucurkan air mata ibu itu pun berkata: “Kamu aku beri izin. Dan kini dirimu sudah kutitipkan kepada Allah SWT. Barangkali setelah ini aku sudah tidak bisa melihatmu lagi, kecuali nanti di akhirat.”
Sambil terus meneteskan air mata, ibunya mengantarkannya menuju kerumunan orang yang hendak pergi bersama-sama menuju Baghdad. Setelah berada di tengah perjalanan tiba-tiba segerombolan perampok yang jumlahnya cukup besar menghadang mereka. Maka dirampasnya seluruh harta benda milik kafilah tersebut sampai tak tersisa.

Tausyiah K.H. Imam Haromain: Membangkitkan Energi Rasa Malu

Bismillah. Alhamdulillah.
Keinginan berubah bisa diawali dari rasa malu. Contoh, seorang ayah tiba-tiba belajar membaca al-Qur'an di umurnya yang menua, karena melihat anaknya yang mulai lancar membacanya. Seorang pria yang baru menikah – yang awalnya begitu malas beribadah – tiba-tiba gemar melakukan shalat lima waktu, lantaran melihat istrinya yang demikian tekun melakukan shalat sunnah malam maupun pagi hari.
Rasa malu, jika kita bisa memenejnya secara tepat, bisa menjadi energi positif yang menggerakkan seseorang untuk melakukan perbaikan kemanusiaan. Energi - yang berasal dari rasa malu - itulah yang menahan seorang pejabat, untuk tidak berikap sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Perasaan itu pula yang membuat seorang pemimpin, tak berlaku semena-mena kepada bawahannya. Seorang juragan yang memiliki rasa malu, tak kan mungkin berbuat kasar terhadap pembantunya.
Energi itu juga yang juga seringkali mendorong seseorang, masyarakat dan suatu bangsa, untuk melakukan instropeksi dan evaluasi. Tak sedikit orang-orang yang semula dihinakan, tiba-tiba mencuat menjadi seorang yang sukses. Rasa malu itulah yang mengubah masyarakat yang tadinya terbelakang, menjadi sebuah masyarakat yang maju dan berkembang.

Tausyiah K.H. Imam Haromain: Obat Hati yang Paling Mujarab

Bismillah. Alhamdulillah.
Selama ini, sudahkah kita melaksanakan amal kebaikan dengan berlandaskan ikhlas? Sering hati kita terasa berat untuk melakukannya. Sebab, dari banyak kebaikan yang telah kita perbuat, masih kerap kali kita lakukan dengan pamrih. Padahal yang dinamakan ikhlas adalah amal perbuatan yg hanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah semata.
Ikhlas memang tak gampang. Untuk dapat mencapai ikhlas, kita masih harus menempuh perjuangan yang sulit. Saking sulitnya untuk meraih ikhlas, seorang ulama' mengatakan; "sudah berkali-kali aku berusaha keras untuk mematahkan riya' dari dalam kalbuku, namun ternyata ia tumbuh kembali dalam bentuknya yang lain." Sufyan Ats-Tsauri juga pernah berkata: “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku. Sebab begitu seringnya ia berubah-ubah.”

Tausyiah K.H. Imam Haromain: Memerdekakan Diri dari Beragam Nafsu

Bisimillah. Alhamdulillah.
Ada sebuah Hadits Rasulullah SAW yang mengatakan, bahwa sesungguhnya Allah telah menjadikan manusia atas 8 perkara; yang 4 perkara untuk para penghuni surga dan 4 perkara untuk penghuni neraka. Perkara untuk penghuni surga adalah wajah yang manis, lisan yang fasih, hati yang taqwa dan tangan yang dermawan. Sedangkan perkara untuk penghuni neraka adalah wajah yang jelek, lisan yang kotor, hati yang keras dan tangan yang bakhil.
Untuk mendapatkan keempat hal tanda penghuni surga – dan sekaligus menghindar dari empat hal sebagai tanda penghuni neraka tersebut, dapat diraih melalui jalan puasa di bulan Ramadhan sebab dengan berpuasa, wajah seseorang akan tampak berbinar cahaya karena jauh dari maksiat. Dengan puasa pula tangan menjadi ringan untuk memberi derma. Dan dengan puasa akan membimbing hati seseorang menuju ketakwaan.