Santri dibekali kemampuan memimpin tahlil yang berguna ketika terjun di masyarakat. Penampilan grup al banjari Sunan Ampel Putra, yang telah menjuarai berbagai festival. Kegiatan orientasi santri baru diadakan setahun sekali. Kebersamaan santri yang tidak terlupakan.

Informasi Penerimaan Santri Baru PP. Mambaul Maárif Asrama Sunan Ampel

Dibuka pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Mambaúl Maárif Asrama Sunan Ampel, untuk tahun ajaran 2015/2016.

Pendaftaran dapat dilakukan di kantror sekretariat asrama Sunan Ampel setiap hari pada jam kerja.
untuk lebih detailnya anda dapat melihat brosur di bawah ini :
Atau informasi lainnya tentang pendaftaran bisa melalui contact person :
Asrama Putra : 085733600005 / 085604977710
Asrama Putri  : 085706140188 / 081232506995







Festival Kaligrafi Dalam Acara Satu Abad PonPes Denanyar

image : madiunpos
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi (tengah) bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (DPDTT) Marwan Jafar (ketiga dari kanan) dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (kiri) membuka Pameran dan Festival Kaligrafi di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Kamis (5/3/2015). Festival kaligrafi itu merupakan acara awal dari paket peringatan satu abad Ponpes Denanyar.( madiunpos )

Satu Abad Pesantren Denanyar Diperingati di PBNU

image : nu.or.id
Peringatan 1 Abad Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, Jawa Timur, dan bedah buku biografi Almaghfurlah KH Bisri Syansuri (1887-1980) digelar di aula gedung PBNU lt 8, Ahad (26/10).

Hadir dalam acara tersebut tokoh senior NU KH Chalid Mawardi, keluarga besar KH Bisri Syansuri, antara lain Pengasuh Pesantren Denanyar Nyai Hj Nadhiroh Shohib dan Ketua Yayasan Pesantren Denanyar Nyai Hj Hamidah, serta para aktivis NU dari berbagai instansi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PP ISNU Ali Masykur Musa juga tampak hadir.

Dalam sambutannya, Kiai Said menyebut KH Bisri Syansuri yang juga salah satu pendiri NU sangat dikenal sebagai ulama yang keukeuh memegang fiqih. Meski demikian, pola hubungan kemasyarakatannya tidak kaku. “Itulah hebatnya kiai NU. Jadi, ulama Timur Tengah perlu belajar ke Indonesia terkait masalah ini,” ujar Kiai Said.

Atas nama alumni IKAPPMAM di Jakarta, Muhaimin Iskandar mengatakan KH Bisri Syansuri adalah mbah buyut dari garis ibunya. “Saya menyebut beliau adalah mbah buyut, mbahnya ibu saya. Beliau melahirkan kelompok kajian Tasywirul Afkar sementara KH Wahab Hasbullah melalui Nahdlatut Tujjar.

Akhirnya, lanjut Cak Imin, dua gerakan itu kemudian melahirkan NU. NU inilah yang sampai hari ini bukan hanya sebagai pilar kehidupan NKRI tetapi juga menjadi gerakan keagamaan yang mengakar sekaligus gerakan sosial yang membumi.

Di akhir sambutan, Cak Imin mengucapkan selamat kepada seluruh alumni atas penyelenggaraan acara tersebut. “Kita persembahkan 1 Abad Pesantren Denanyar kepada PBNU,” ujarnya yang langsung disambut aplaus panjang hadirin.

Usai membuka secara resmi peluncuran 1 Abad Pesantren Denanyar, KH Said Aqil Siroj diberi kehormatan untuk melakukan pemotongan tumpeng yang diberikan kepada Nyai Hj Nadhiroh Shohib. Acara kemudian dilanjutkan bedah buku biografi Almaghurlah KH Bisri Syansuri dengan moderator Abdul Halim Iskandar, adik kandung Abdul Muhaimin Iskandar. Tiga orang narasumber didaulat sebagai pembedah: KH Chalid Mawardi, Hj Lily Chadijah Wahid, dan Zainul Milal Bizawi.( nu.or.id )

Dokumentasi peringatan satu abad PonPes Mam'baul Ma'arif Denanyar Jombang

1.Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj (tengah) bersama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (kanan) dan pengurus PBNU, pada acara pemotongan tumpeng dalam rangka memperingati 1 Abad Pesantren Denanyar, Jombang, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.
image : Okezone

 2.Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar memberikan kata sambutan pada acara pemotongan tumpeng dalam rangka memperingati 1 Abad Pesantren Denanyar, Jombang, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat
image : Okezone

 3.Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj memberikan kata sambutan pada acara pemotongan tumpeng dalam rangka memperingati 1 Abad Pesantren Denanyar, Jombang, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.
 image : Okezone
4. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj (kiri) mengambil nasi tumpeng pada acara memperingati 1 Abad Pesantren Denanyar, Jombang, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat
image : Okezone

 5.Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj (dua kanan), Politikus Senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lily Wahid (dua Kiri) bersama pengurus melakukan potong tumpeng peringati 1 Abad Pesantren Denanyar, Jombang, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat
 
Sumber Dokumentasi : Okezone
















Peringatan Satu Abad Dan Haul Ponpes Mamba'ul ma'arif Denanyar Jombang 2015

image : Okezone
Dua orang menteri Kabinet Kerja, yakni Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Abdul Nasir dan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dakhiri, menghadiri puncak peringatan haul KH Bisri Syansuri di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Minggu (19/4) malam. Pada acara yang dikemas dengan peringatan satu abad Ponpes Denanyar itu, selain dibanjiri ribuan umat, juga dihadiri jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), seperti Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Ali Mashuri (Gus Ali) Sidoarjo, Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul), serta Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa Abdul Muhaimin Iskandar.
 
Ketua DPRD Jawa Timur yang juga mewakili tuan rumah (sahibul bait) Abdul Halim Iskandar, mengatakan, bahwa haul Kiai Bisri Syansuri tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Karena kali ini bertepatan dengan satu abad berdirinya Ponpes Denanyar.
“Kami menggelar kegiatan ini diawali dengan pameran kaligrafi mulai Maret lalu. Juga disusul forum Bahtsul Masail, jalan sehat sarungan, pagelaran wayang dengan dalang Ki Entus Susmono, temu alumni nasional, hingga ceramah agama oleh Gus Mus,” ujarnya.

Abdul Halim Iskandar yang juga cucu KH Bisri Syansuri, mengemukakan sejarah singkat kiprah kakeknya yang bersama-sama Hadrattussyeh KH Hasyim Asyari dari Ponpes Tebuireng dan KH Wahab Chasbullah dari Ponpes Tambakberas, KH Bisri Syansuri ikut mendirikan organisasi sosial masyarakat keagamaan NU.

“Almarhum adalah pendiri Ponpes Denanyar, Jombang dan terkenal atas penguasaannya di bidang fikih agama Islam. Kiai Bisri pernah aktif berpolitik, antara lain sempat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili komunitas Masyumi, juga pernah menjadi anggota Dewan Konstituante, Ketua Majelis Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan sebagai Rais Aam PBNU,” ujar Abdul Halim. ( BeritaSatu )

Faiq dan Nur Laili: Juara Khitobiyah Kubro Oktober 2014

Alhamdulillah, khitobiyah kubro pada malam Jum'at, 16 Oktober 2014 berjalan dengan lancar. Acara yang menjadi agenda pengurus departemen pendidikan ini digelar sehabis Isya.

Peserta khitobiyah kubro edisi Oktober 2014 sebagai berikut:
  1. Rafli Akbar Ardhiansyah (1 tsanawiyah)
  2. Cahya Dwi Hidayati (1 tsanawiyah)
  3. M. Faiq Dzikrullah (2 tsanawiyah)
  4. Amaliyah Lailatul (2 tsanawiyah)
  5. Zaki Afkar naja (3 tsanawiyah)
  6. Dinda Putri S. (3 tsanawiyah)
  7. Shofiyatul Mahmudah (1 aliyah)
  8. Iqbal Maulana Mubarok (1 aliyah)
  9. Suci Handari (2 aliyah)
  10. Abu Alif (2 aliyah)
  11. Laili Cahyaningrum (3 aliyah)
  12. Nur Laili Romadhona (3 aliyah)
  13. M. Tanzilul Furqon (3 aliyah)
  14. M. Khariri Firdaus (3 aliyah)

Yang bertindak sebagai juri pada acara yang berlangsung di halaman Asrama Sunan Ampel adalah Ustadz Zainul Mujib dan Ustadz Hasan Ismail. Ustadz Mujib sebagai juri naskah, dan Ustadz Hasan sebagai juri penampilan.
Khariri Firdaus - Salah satu peserta bahagia
Khariri Firdaus - Salah satu peserta bahagia

Meskipun ada 1 peserta yang terkena diskualifikasi - yaitu M. Tanzilul Furqon - karena pulang, tidak membuat juri ragu menentukan juara. Setelah disepakati dewan juri, Faiq Dzikrullah (75,5 poin) didaulat menjadi terbaik 1 tingkat tsanawiyah. Sedangkan Nur Laili Romadhona (75 poin) berhasil menjadi terbaik 1 tingkat aliyah.

Berikut adalah rekapitulasi nilai peserta tingkat tsanawiyah:

  • Rafli Akbar A. (63,5 poin)
  • Cahya Dwi Hidayati (69 poin)
  • M. Faiq Dzikrullah (75,5 poin) - terbaik 1
  • Amaliyah Lailatul (72,5 poin)
  • Zaki Afkar Naja (64,4 poin)
  • Dinda Putri S. (61,5 poin)

Faiq Dzikrullah - Terbaik 1 tingkat tsanawiyah
Faiq Dzikrullah - Terbaik 1 tingkat tsanawiyah

dan berikut adalah rekapitulasi nilai peserta tingkat aliyah:

  • Shofiyatul Mahmudah (65,5 poin)
  • Iqbal Maulana Mubarok (68,5 poin)
  • Suci Handari (73 poin)
  • Abu Alif (67 poin)
  • Laili Cahyaningrum (66 poin)
  • Nur Laili Romadhona (75 poin) - terbaik 1
  • M. Tanzilul Furqon (0 poin) - diskualifikasi
  • M. Khariri Firdaus (64,5 poin)

Nur Laili Romadhona - Terbaik 1 tingkat aliyah
Nur Laili Romadhona - Terbaik 1 tingkat aliyah

Selamat untuk para juara. :-)

Acara ini diliput secara langsung, dan langsung di-post pada akun twitter Asrama Sunan Ampel. Follow twitter-nya agar Anda tidak ketinggalan kabar terbaru secara langsung di Asrama Sunan Ampel.

22 Pasukan Sholawat Nariyah Sunan Ampel Putra Terbentuk!

Asrama Sunan Ampel Putra memiliki kegiatan yang intruksional, yaitu “nariyahan” (dzikir bersama membaca sholawat nariyah). Kegiatan ini hanya dilakukan jika telah diutus oleh Pengasuh. Kegitan ini hanya diikuti oleh santri yang terpilih.

Beberapa hari yang lalu, KH. Imam Haromain Asy'ari, M.Si. - selaku Pengasuh – telah mengutus mencarikan anggota. Pesan tersebut disampaikan kepada pembina, lalu pembina memilih 22 santri yang dijadikan jama'ah sholawat nariyah.


Berikut daftar santri tersebut:



  1. A. Fahruddin
  2. Abid Mufassir
  3. Affan Muhammad
  4. Ahmad Nashih
  5. Aji Kurniawan
  6. Ali Maulana Kilwo
  7. Azmi
  8. Dzikri
  9. Faiq Dzikrullah
  10. Fatih Aslamuddin
  11. Fauzi
  12. Fikri Akbaruddin
  13. Ismail Dwi Prilaksono
  14. Ja'far
  15. Lukman
  16. M. Abdul Hafizh
  17. M. Elma Fikri Alfan Ni'am
  18. M. Irsyadul Ibad
  19. M. Zulal Arwa
  20. Rafli
  21. Yahya Thobroni
  22. Zulham
Pasukan tersebut bersifat wajib ikut. Jadi jika tidak ada udzur, harus mengikuti. Namun jika ada udzur, harus mencari atau dicarikan pengganti.

Simpanan Santri Sunan Ampel: Layanan Simpan di Asrama Sunan Ampel

Pada hari Rabu, 17 September 2014, pembina Asrama Sunan Ampel putra telah membuka layanan simpanan. Layanan yang berpusat di kantor pembina Sunan Ampel putra ini dinamakan Simpanan Santri Sunan Ampel (SSSA).

Latar belakang dibuatnya layanan ini adalah karena banyak yang menitipkan uang kepada pembina, baik itu santri maupun wali santri. Setelah diskusi singkat, dewan pembina sepakat membuat layanan simpanan agar lebih terorganisir.

Para santri yang belum membuka simpanan sebaiknya segera bergabung, karena memang ada beberapa keuntungannya. Antara lain:
  • Lebih aman: Uang disimpan di kantor pembina, sehingga lebih aman dari jangkauan tangan-tangan jahil. Uang juga hanya bisa diambil setelah pembina menandatangani buku simpanan yang harus dibawa saat transaksi.
  • Memudahkan mengatur keuangan: Dengan menitipkan, secara otomatis santri dapat dicegah membeli sesuatu yang tidak benar-benar diperlukan. Karena jika pengambilan melebihi jatah harian (Rp. 15.000,-), harus disertai sebab pengabilan uang.
  • Aliran uang lebih jelas: Ketika membuka simpanan, santri otomatis mendapat buku simpanan. Pada buku simpanan tersebut tercatat aktivitas keuangan santri setiap hari. Apabila buku tabungan hilang pun, SSSA sudah memiliki data lengkap transaksi yang dilakukan.
Jika ada santri yang berminat, tinggal datang ke kantor pembina dengan membawa sejumlah uang. Uang tersebut langsung diisikan ke saldo santri tersebut setelah dipotong Rp. 2.000,- untuk biaya administrasi. Saldo tersebut dapat diisi berapa saja, dan dapat diambil kapan saja asal tidak melebihi jatah harian.

Asrama Sunan Ampel selalu mengembangkan layanan dan fasilitas untuk para santri. Bergabunglah dengan para santri disini dengan mendaftarkan diri diAsrama Sunan Ampel Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang.

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Jiwa-Jiwa yang Bertaburkan Kasih Sayang

Bismillah. Alhamdulillah.
Sebutan lain dari Ramadhan sebagai bulan kasih sayang, ternyata bermula dari sebuah kisah. Pada saat perang Yarmuk usai berkecamuk, seorang sahabat yang bernama Ibnu Jahm berkeliling mencari sepupunya yang sedang terluka parah. Lalu setangkup air yang sejak tadi didekapnya erat-erat itu, segera disodorkannya kepada keponakannya tersebut – yang setiap jengkal tubuhnya penuh dengan goresan luka dan lumuran darah.
Tapi keponakannya itu justru menampiknya dan berkata: “Berikanlah air ini kepada lelaki itu,” sambil jemarinya menuding kepada lelaki yang dimaksudkannya tersebut. “Sebab dia lebih membutuhkannya dari pada aku. Lantaran dia tengah berjuang antara hidup dan kematiannya.” Lalu Ibnu Jahm pun menuju ke lelaki itu. Setelah diulurkannya setangkup air tersebut, lelaki itu pun juga menampiknya sambil berkata: “Berikanlah air itu kepada saudaraku seiman seperjuangan yang berada di sana itu. Sebab dia kelihatan lebih membutuhkannya ketimbang aku.”
Maka sahabat itu pun pergi mendatangi pria yang dimaksud oleh lelaki itu. Ketika diberikan air terebut, pria itu pun juga melakukan hal yang sama. Maka Ibnu Jahm pun berpindah dari lelaki yang satu menuju ke pria yang lain. Dan akhirnya dia kembali lagi kepada sepupunya, yang kala itu sudah dalam keadaan wafat; pulang ke rahmatullah menemui Dzat yang senantiasa menaburkan kasih sayang kepada para hambaNya.