Kamis, 18 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Jika Waktu Bergulir Tanpa Mengalir ke JalanNya

Bismillah. Alhamdulillah.
Ada pepatah Arab yang mengandaikan waktu dengan pedang. Jika engkau lengah, maka ia akan segera menebas lehermu sendiri. Oleh karenanya, berpandai-pandailah mengatur waktu dan jangan sekali-kali merehkannya. Maka satu hal yang tak boleh kita abaikan, adalah menyediakan waktu untuk mencari ilmu, untuk keluarga dan untuk beribadah.
Dalam rentang waktu 24 jam, betapapun kita didera kesibukan yang makin berjubel, lakukanlah sejenak untuk meraup ilmu. Sebab dengan ilmulah manusia bisa lebih mengerti dan dapat mengembangkan diri. Lebih-lebih bagi anak generasi bangsa, yang kelak akan mewarisi kepemimpinan negeri ini. Jangan pernah biarkan waktu kita berlalu begitu saja dan kosong dari ilmu pengetahuan. Sebab ilmu adalah cahaya, yang setiap saat memancar menerangi jiwa dan kehidupan. Tanpa ilmu pengetahuan, maka hari depan yang kita gambar akan semakin tanpak meremang – sehingga berjalan menuju rel kehancuran.

Rabu, 17 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Pandangan yang Mengingkari Mukjizat Kenabian

Bismillah. Alhamdulillah.
Di samping sebagai wisata religi dan training kedirian Rasulullah, ternyata peristiwa isra’ mi’raj juga menjadi batu ujian tersendiri bagi umatnya. Terbukti, tak sedikit dari sahabat yang patuh terhadap Nabi SAW tiba-tiba saja berpaling kembali. Bagi logika zaman itu, peristiwa itu masih menyisakan berjuta pertanyaan.
Sebab sebagaimana mungkin seseorang bisa menempuh perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dan bahkan melesat kelangit tertinggi hanya dalam waktu yang cuma sekejap? Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah menyebutkan; ketika Rasulullah kembali tempat tidurnya masih hangat, dan temayan air yang jatuh ketika beliau di bawa pergi jibril sama sekali belum tumpah.
Anehnya, kini pertanyaan-pertnyaan semodel itu masih saja berulang. Betapa mungkin seseoraang melesat melebihi kecepatan cahaya – yang merupakan kecepatan tertinggi dalam kontinum empat dimensi? Bukankah tubuh Rasul yang bersifat materi akan terbakar ketika bergesekan dengan lapis-lapis atmosfir? Bagamana pula mungkin manusia sanggup melepas keterikatannya dengan hukum gravitasi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tentu menyiratkan bahwa kita memang tak demikian jeli untuk membedakan antara yang mustahil bagi akal dan yang belum di mengerti oleh akal, antara yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional. Ada ungkapan menarik dari Kierkegaard – seorang tokoh eksistensialisme; bahwa seseorang harus percaya bukan karena dia tahu, tetapi karena karena dia tidak tahu.

Selasa, 16 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Sang Pembawa Obor Penerang

Bismillah. Alhamdulillah.
Madrasah yang unggul dan ideal, bisa dimulai dari lingkungan yang bersih. Sebab kebersihan dapat menjadi pertanda dari kedisiplinan, religiusitas, kesungguhan dan juga kedamaian. Sebuah pepatah Arab mengatakan, bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Ungkapan itu diinspirasi oleh Hadist: “Kesucian merupakan bagian dari iman.”
Dari ruang belajar yang tampak menawan, tentulah akan mudah memotivasi peserta didik untuk menggapai kecerdasan. Dari lingkungan yang bersih, akan membuat mereka merasa nyaman dan merasa betah di dalamnya. Kondisi yang bersih memikat, tentulah akan pula mendorong untuk bersenantiasa dalam kondisi bersih pula. Dan dari ruang belajar yang bersih, lingkungan yang bersih, serta kondisi jiwa yang bersih, akan sangat mempermudah para siswa untuk menggapai kecemerlangan pikiran.
Tapi bagi madrasah, kecemerlangan pikiran saja kiranya tak cukup. Sebab disamping unggul secara pemikiran, generasi madrasah haruslah unggul pula secara skill, mental dan spiritual. Itulah sebabnya penguatan aqidah dan pembetukan akhlaqul karimah, adalah merupakan suatu keniscayaan yang tak bisa diabaikan. Dengan aqidah yang kuat, mereka akan senantiasa berhubungan dengan Allah Sang Penciptanya. Dan dengan aklak yang mulia, mereka akan gemar menabur kedamaian dan kasih sayang terhadap sesama. Maka dengan itulah, peserta didik kita akan dapat menampik segala tindak asusila, segala bentuk amoral dan segala bentuk asosial.

Senin, 15 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Para Pewaris Lentera Mata Hati

Bismillah. Alhamdulillah.
Sesibuk-sibuk urusan hidup kita, jangan sekali-kali mealpakan ilmu pengetahuan. Sebab banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang memfirmankan akan pentingnya ilmu pengetahuan. Rasulullah sendiri juga begitu tinggi memposisikan derajat ilmu pengetahuan. Kita dianjurkan untuk sebanyak-banyaknya melahap ilmu pengetahuan serta mengamalkannya. Sebab ilmu pengetahuan merupakan instrumen pembenahan dan perbaikan individual dan sosial kemasyarakatan.
Itulah sebabnya Allah SWT meletakkan posisi ilmu pengetahuan persis di belakang keimanan. Berpadunya iman dengan ilmu pengetahuan inilah, yang akan mengantarkan manusia menuju suatu kedudukan yang agung, luhur dan mulia. Sebagaimana yang termaktub dalam surah al-Mujadalah 58: ”Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Bahkan Rasulullah pernah bersabda, bahwa ulama’ itu adalah merupakan pewaris para Nabi. Sabdanya yang lain: Kedudukan seseorang yang berilmu itu lebih mulia dari ahli ibadah. Itulah sebabnya beliau mewajibkan umatnya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mencari ilmu sejak masih dalam ayunan hingga menuju liang kubur. Pada haditsnya yang lain Rasulullah juga bersabda: “Barangsiapa keluar rumah dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah SWT hingga kembali pulang.”

Minggu, 14 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Pilar Utama Moralitas Bangsa

Bismillah. Alhamdulillah.
Potret moralitas bangsa Indonesia, tampaknya, makin melukiskan gambar yang muram. Saban pagi kita disuguhi sarapan koran dengan menu yang membuat perut mual; sajian korupsi yang saling kait-mengait, pencurian dan perampokan yang makin terang-terangan, penipuan dengan segala modusnya, pertikaian sesama anak bangsa yang tak kunjung usai, pembalakan liar terjadi dimana-mana, amuk massa dan pembakaran pun makin membara.
Hal itu dilengkapi pula dengan beragam tontonan telivisi yang membikin kita mabok-kepayang; kontes pameran aurat yang minim gaun, rating utama unjuk sensualitas, gegap-gempitanya pornografi dan pornoaksi, kaum selebriti yang dengan gampangnya gonta-ganti pasangan, serta sederet tayangan hura-hura yang lebih berdampak negatif-destruktif buat keluarga kita. Belum lagi dengan kasus-kasus pemerkosaan dan penganiyaan, serta sederet tindakan keji lainnya yang lebih tak berperikemanusiaan.
Di masyarakat kita juga sudah membudaya sikap ketidakjujuran, meningkatnya kenakalan remaja yang berprilaku kriminal, pudarnya rasa hormat kepada yang lebih tua, merosotnya rasa tanggungjawab sosial, serta nilai-nilai moralitas, etika, susila dan tatakrama yang kian diabaikan. Sehingga masyarakat hidup dalam kondisi yang saling curiga, saling khawatir dan saling membenci. Kondisi semacam inilah, yang membuat kesenangan dan kebahagiaan menjadi barang yang mahal. Dan ketentraman, kedamaian, serta kenyamanan hidup menjadi sesuatu yang langka.

Sabtu, 13 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Proses Panjang Moralitas Keteladanan

Bismillah. Alhamdulillah.
Moralitas keteladanan kerapkali dibangun sejak dari keluarga. Sebab pemimpin tidaklah dilahirkan, melainkan dibentuk oleh sebuah proses sejarah yang panjang. Dan sejarah panjang itu berpangkal pada keharmonisan rumah tangga. Dari suasana keluarga yang dinaungi kemuliaan moralitas, kelak akan menghasilkan sosok pemimpin yang agung.
Contoh paling ideal dari figur yang demikian itu, tentulah berpulang pada diri Rasulullah SAW. Betapa indahnya arus komunikasi dan pola hubungan yang diciptakannya, ketika hidup berdampingan dengan istri, anak, menantu dan cucu-cucunya. Sikap beliau terhadap mereka senantiasa berhiaskan kelemah-lembutan.
Rasulullah SAW telah memberikan keteladanan; bagaimana cara mendesain sebuah keluarga yang harmonis-sakinah. Bahwa antara suami, istri, dan anak terdapat suatu pertalian yang suci, luhur dan agung. Itulah pertalian mahabbah, mawaddah wa rahmah; sikap saling mencintai dan saling mencurahkan kasih sayang penuh kerahmatan, yang berhamparkan ketulusan dan keteladanan.

Jumat, 12 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Pemimpin yang Sanggup Mengusap Airmata Umat

Bismillah. Alhamdulillah.
Masihkah tersisa air mata kita, untuk menangisi akibat dari krisis global yang telah berpanjang-panjang itu? Kericuan di segmen sosial, hingga kini kiranya tak kunjung selesai. Angka kriminalitas bahkan telah mengalami lonjakan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Krisis ekonomi juga telah melahirkan pengangguran dimana-mana. Kelaparan sudah bagai epidemi, yang merambat ke berbagai daerah hingga kampung-kampung pinggiran desa.
Pada ranah politik, kita juga tak makin dewasa untuk bisa berunding dalam satu meja secara damai. Saling fitnah, saling tuding dan saling maki telah menghiasi media massa saban pagi. Dunia peradilan juga tak makin dekat dengan harapan keadilan. Tak sedikit kasus-kasus ketidak-adilan yang cuma berhenti sebagai kasus semata. Tindak asusila juga telah mereba dimana-mana. Pelecehan kaum perempuan, hingga kini pun masih belum sanggup dipamungkasi secara arif pula.

Kamis, 11 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Lima Pilar Merawat Barang Titipan

Bismillah. Alhamdulillah.
”Salah membajak tanah, rusak padi semusim. Salah memenej negara, merusak satu generasi.” Ungkapan ini hendaknya bisa kita camkan bersama, utamanya bagi mereka yang telah mendapatkan amanah jabatan. Jika seluruh aparat pemerintahan mau menghayatinya dengan seksama, maka cukuplah itu menjadi dasar bagi terciptanya sebuah pemerintahan yang mempesona (good goverment dan clean goverment)
Islam sendiri sangat sederhana dalam merumuskan pemerintahan semacam itu. Bahwa dari setiap kebijakan dan langkah-langkah yang diputuskan, haruslah diperuntukkan sepenuhnya untuk kemaslahatan rakyat. Terkhususkan lagi, bagi anggota masyarakat yang kondisinya lemah memprihatinkan.
Untuk mengukur ranah kemaslahatan tersebut, Ushul Fiqh memberikan 5 pilar yang bisa dijadikan sebagai rujukan. Bahkan lima pilar inilah, yang dikatakan oleh Imam al-Ghozali sebagai muara dari seluruh dermaga syariat Islam. Pertama, adalah hifdhun nafs; yakni perlindungan hak hidup dan integritas fisik. Pemerintah harus benar-benar bisa memfasilitasi, serta memberikan pengayoman terhadap seluruh rakyatnya mengenai hal tersebut.

MP3 Pengajian K.H. Ahmad Wazir Ali, Lc.: Download Tafsiir Jalaalain

Bismillah. Alhamdulillah.
Siapa yang tidak tahu kitab Tafsir Jalaalain? Kitab tafsir ini sangat populer di masyarakat luas – selain Tafsir Ibnu Katsiir. Kitab ini dikarang oleh dua imam yang bernama Jalaaluddiin, makanya dinamai dengan Tafsir Jalaalain (Tafsir sepasang Jalaal). Yang satu bernama Syekh Jalaaluddiin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli, yang satu bernama Syekh Jalaaluddiin 'Abdurrohman bin Abi Bakar As Suyuuthii. Karena termasuk yang paling ringkas, kitab ini layak Anda jadikan permulaan jika ingin mengaji tafsir.

Rabu, 10 September 2014

Tausiyah K.H. Imam Haromain: Menakar Pemimpin dengan Empat Formula

Bismillah. Alhamdulillah.
Bagaimana seharusnya memilih seorang pemimpin – agar kita tak kecewa di kemudian hari? Cara yang paling gampang, takarlah dirinya dengan kriteria empat sifat Rasul. Pertama-tama pastikan bahwa dia adalah orang yang siddiq; memihak kebenaran, dapat dipercaya, jujur dan bukan seorang pendusta. Sebab pemimpin yang pembohong, kelak akan terus menerus membohongi orang-orang yang dipimpinnya.
Orang yang jujur, selalu seiring antara lisan dan perilakunya. Sementara seorang pendusta lebih pintar memintal kata, meskipun itu tak pernah berbuah kenyataan. “Jika ada orang yang mengaku cinta terhadapku, tetapi dirinya tak pernah melakukan yang telah aku teladankan,” kata Sang Nabi SAW, “maka sesungguhnya dia adalah seorang pendusta besar.”
Apabila sang calon pemimpin telah terseleksi dalam kategori jujur, maka saringlah dirinya dengan kriteria yang kedua, yakni amanah. Dengan sifat amanah yang dimilikinya, setiap orang cenderung karib dengannya. Tak hanya sahabat kerabat dekat saja yang mendekat, melainkan dari pihak lawan pun jadi segan dan menyatakan dukungan kepercayaan terhadapnya. Seseorang yang menggengam sifat amanah, kalau mendapat kepercayaan, sekali-sekali tak akan pernah menyia-nyiakannya.