Ketahui 6 Perkara Yang Dapat Merusak Amal Baik

Gambar: principalspage.com
Setiap amal baik yang dikerjakan dengan keikhlasan dan benar-benar mengharap ridho dari Sang Pencipta Alam Semesta, akan mendapat pahala yang mampu menuntun hidup menjadi lebih bahagia dunia akhirat. Namun hidup di dunia tidak hanya diselimuti dengan adanya kebaikan semata. Tidak sedikit pula perkara yang menjadi benalu akan setiap amal perbuatan baik itu sendiri. 

Sehingga memang perlu kita sadari, bahwa untuk mencapai puncak kehidupan yang selalu mendapat kenikmatan dan keberkahan di dunia dan akhirat, haruslah dibarengi dengan tekad yang kuat dan penuh perjuangan. Dan setiap alur kehidupan di dunia ini menjadi salah satu faktor penentu akan tercapainya kehidupan selanjutnya, yakni di akhirat kelak.

Di mana mulai dari faktor penentu ini, akan bisa diganjar dengan perkara yang pasti, yakni menjadi golongan Ahli surga yang senantiasa mendapat rahmat dan kenikmatan yang luar biasa dari Allah SWT. Oleh sebab itu jika kita menginginkan semua amal baik yang dikerjakan ini senantiasa diterima dan mendapat ridho dari-Nya, maka perhatikanlah akan perkara yang justru malah merusak akan setiap amal baik yang akan kita kerjakan.

Karena setiap menjalankan amal baik, belum tentu juga semulus apa yang kita bayangkan. Dan terkadang juga dipenuhi dengan ujian yang perlu kita hadapi atau kita sikapi dengan bijak.

Dan inilah 6 perkara yang justru bisa merusak akan setiap amal baik di dunia :

1. Membicarakan Aib Seseorang
Mengerjakan amal baik merupakan suatu perkara yang kita investasikan, agar nantinya Allah SWT senantiasa melindungi serta memberikan rahmat-Nya untuk diri kita, dan memberikan kehidupan yang berkah dunia akhirat. Akan tetapi jika dalam mengerjakan suatu amal baik ini diselingi dengan perkara yang bathil, maka malah akan menjadikan amal baik tersebut rusak. Seperti halnya menyelinginya dengan menyibukkan diri untuk membicarakan aib orang, baik itu dengan cara ghibah, namimah, maupun perkara buruk lainnya. 

Oleh sebab itu setidaknya perkara buruk ini harus kita hindari, agar semua amal baik yang kita lakukan tidak sampai rusak, atau tercampur aduk dengan perkara yang bathil.

2. Hati Yang Keras
Hati yang tertutup dan berubah menjadi keras, akan menjadikan diri menjadi angkuh dan sombong. Meskipun seseorang mengetahui akan kebenaran yang harus ditegakkan dan dijalankan, namun karena adanya hati yang keras ini, maka semua amal baik akan bisa rusak, bahkan bisa menjadi penghalang untuk menuju jalan petunjuk yang diridhoi Allah.

Maka hendaknya kita bisa menjauhi dari sifat kerasnya hati ini, dan mampu membimbing diri kita untuk menuju ke arah yang benar dalam menjalani hidup. Untuk menghindari atau menjauhkan diri dari karakter hati yang keras, sebaiknya seringlah mengingat akan semua karunia yang diberikan Allah kepada kita, yakni hanyalah sebatas titipan dan amanat. Dan suatu ketika semua titipan atau amanat ini akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.

3. Terlalu Cinta Dunia
Memang pada dasarnya semua nikmat  yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita selama hidup di dunia, merupakan fasilitas yang berguna untuk kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi jika kita sampai terlena atau terkena tipu daya setan untuk terus terusan cinta kepada perkara duniawi, hingga pada akhirnya akan lupa urusan akhirat. Maka dari situ akan menjadikan rusaknya semua amal baik yang selama ini kita jalankan. 

Oleh karena itu, gunakanlah perkara duniawi menjadi jalan untuk menggapai akhiratmu. Sebatang kenikmatan yang kita dapatkan, bisa menjadi permata yang indah ketika kita bisa menjadikan sebatang perkara duniawi ini untuk menggapai ridho Allah SWT. 

4. Sedikit Rasa Malu
Sesuai dengan sabda Nabi yang telah termaktub dalam Hadits Shahih bukhari, menjelaskan bahwa: “ Sesungguhnya malu adalah sebagian dari Iman ’’. Kata malu yang dimaksud yakni malu kepada Allah Untuk melakukan perbuatan keji. Dan bagi setiap insan yang kehilangan rasa malunya dan berbuat sesuka hati, tanpa memperhatikan akan setiap batasan dan tuntunan agama yang telah diajarkan, maka hal tersebut mampu merusak setiap perbuatan atau amal baik yang dilakukan. Di mana seseorang akan mudah sekali lengah, dan lupa akan tuntunan agama tersebut, serta terjerumus pada perkara buruk yang dilaknat oleh Allah SWT. 

Oleh karena itu, menjaga hati dan pikiran untuk selalu mengingat akan kebesaran-Nya itu amat diperlukan. Dengan begitu akan menjadikan diri untuk selalu memperkokoh keimanan, serta menjauhi akan larangan yang telah ditetapkan. 

5. Panjang Angan-angan
Hal demikian memang sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Sahabat Ali Bin Abi Thalib R.A, Beliau berwasiat : 

“ Yang saya sangat khawatirkan atas kamu adalah dua macam yaitu: Panjang angan-angan dan menuruti hawa nafsu. Karena panjang angan-angan itu dapat melupakan akhirat dan menurutkan hawa nafsu itu menghalangi dari kebenaran (hak). ”

Bagi setiap insan yang memiliki panjang angan-angan ini disebabkan oleh dua hal, yakni karena kebodohan dan terlalu cinta dunia. Di mana kedua faktor ini, akan selalu mengarahkan jiwa dan raga seseorang untuk terus menerus meraih perkara dunia tanpa henti. Hingga pada akhirnya melupakan urusan akhirat, yang sebenarnya menjadi perkara yang harus dilaksanakan dan diperkokoh.

Sehingga dari situ akan menjadikan seseorang untuk menghalalkan berbagai macam cara dalam menggapai perkara dunia yang dituju. Alhasil, Semua amal baik yang sebenarnya menjadi petunjuk bagi dirinya, kini telah rusak akibat mata hati yang telah terlena dengan adanya sifat ini.

6. Berbuat Kedzaliman Yang Tiada Henti
Sungguh besar karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada setiap makhluk-Nya. Rizki yang di dapat memang haruslah dibarengi dengan rasa syukur yang ditujukan hanya kepada-Nya. Dan jika kita kurang menyukuri tentang pemberian nikmat ini, maka akan memicu seseorang untuk berbuat dzalim.

Sehingga dari kdzaliman tersebut akan bisa merusak semua amal baik yang kita lakukan. Layaknya memberikan sebagian rizki kepada seorang yang kurang mampu, namun dibarengi dengan riya’, bukankah demikian itu akan bisa menghapus pahala dari amal baik yang telah diperbuat..?. Itulah mengapa kedzaliman ini mampu merusak akan setiap amal baik yang hendak dikerjakan.

Beberapa perkara di atas memang didasarkan kepada hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami, dari rawinya Imam Adi bin Hatim. Bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

" Enam perkara yang bisa melebur amal kebaikan  : Sibuk mencari aib  orang lain , keras hati, terlalu cinta dunia, sedikit rasa malu, panjang lamunan / khayalan, dan kedzaliman yang tidak pernah berhenti "

Semoga dari adanya enam perkara tersebut bisa kita hindari, dan mampu menerapkan semua amal baik dengan penuh keikhlasan. Serta dengan semata-mata hanya mengharap ridho dari Sang Pencipta alam semesta. Amiin.... 
Kontributor : ARBAMEDIA Team

Makna "Ikhlas" Yang Tersembunyi Dalam Surah Al-Ikhlas

image: wallpaperes.altervista.org
Tuhan merupakan zat yang tak akan pernah kita ketahui kepastiannya, namun Ia mengagungkan diriNya dengan bahasa, bahasa Al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an memberikan larangan untuk memikirkan zat Allah, namun Allah memberi manusia petunjuk untuk memkirkan apa-apa yang telah Ia ciptakan.

Allah memberikan kita petunjuk berupa Al-Qur’an, dibutuhkan pemahaman yang baik untuk mengetahui isi petunjuk tersebut. Surah Al-Ikhlas, Surah pendek berisi empat ayat, dinamakan Al-Ikhlas tetapi sama sekali tidak ada kata Ikhlas di dalamnya. Apa maksud yang hendak disampaikan Oleh Allah swt..?,  Mari kita simak..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Ayat pertama “qul huwallaahu ahad” : Katakanlah Tuhan itu Ahad.
Dalam terjemah Al-Quran yang lain diartikannya “katakanlah Tuhan itu Esa”, ada juga yang mengartikannya “katakanlah Tuhan itu Satu”.

Engkau yang satu, apakah sama pemaknaan satu sebagai contoh satu ‘’Dian’’  dengan satu ‘’Tuhan’’?, Benarkah satu itu tidak ada unsur lain?. ‘’Dian’’ satu, tetapi ada dua tangan, dua kaki, dua telinga, dua mata. Tetapi Dian tetaplah satu, Satu atau Tunggal. Seorang lelaki menikah dengan perempuan akan membentuk satu keluarga. Dua orang tetapi dinamakan “satu” keluarga. Satu disini bermakna penyatuan dua unsur yang menjadi satu.

Namun, Tuhan tidak membutuhkan pasangan, adakah Tuhan kesepian?, Tuhan tidaklah sendiri, tidak juga banyak, sebagaimana banyaknya manusia. Tuhan bersama dengan ciptaan-Nya : kerjasama tim, sebagaimana keluarga antara suami dan istri. Maka Tuhan beserta Malaikat-malaikat-Nya dan dengan segala yang Ia cipta.

Tuhan meliputi segalanya, meliputi alam semesta, meliputi malaikat-malaikat-Nya, Serta meliputi apapun itu. Itulah ahad, satu atau Tunggal. Dalam konsepsi Jawa, kita kenal dengan kata manunggaling kawula gusti. Manunggal: satu. Dalam konsepsi kenegaraan kita kenal dengan kata Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka: berbeda-beda / beragam, Ika: Satu. Jadi apa makna dari Tunggal?, Bisakah diartikan “tetapi”?, Dalam tunggal itu ada keberagaman.

Tuhan adalah dzat yang Maha Sempurna. Kita tidak akan pernah tau bagaimana dzat Tuhan yang sebenarnya, namun penting adanya untuk mengetahui agar terbangun pemahaman bila Ia benar-benar berbeda dengan makhluk-Nya. Dalam Surah Al-Ikhlas dijelaskan, “katakanlah Tuhan itu satu”, kalimat ini merupakan kalimat impressive. Muhammad diperintahkan oleh Tuhan melalui Jibril untuk mengakui bila Tuhan itu satu. Ayat ini juga dikenal dengan ayat Tauhid. Muhammad dikuatkan kembali dengan pengakuan tersebut, sekaligus sebagai peringatan kepada umatnya agar melakukan perjalanan-perjalanan “tauhid”. Sebagaimana pula yang dilakukan  Ibrahim dalam proses pen-Tauhidannya.

Dalam bahasa sederhana “katakanlah Dian, itu adalah kekasihku”. Seseorang memerintahkanku untuk mengakui jika Dian adalah kekasihku. Malaikat menguatkan keyakinan Muhammad dengan persaksiannya “Tuhan itu satu”. Begitupun dengan aku yang bersaksi tentang “Dian adalah kekasihku”. Ada pengakuan di dalamnya atau mengikrarkan diri. Ayat kedua dari Surah Al-Fatihah sebagai penjelas tentang Tuhan yang satu, siapakah Tuhan yang satu itu? “alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin”: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tuhan yang satu, meliputi seluruh semesta (Baca: Gus Mus). Akankah Tuhan kesepian?, Jawabannya tidaklah mungkin Tuhan kesepian, karena Ia adalah yang Maha Cinta?, ialah Tuhan yang meliputi alam semesta.

Kemudian pertanyaan bagi kita semua, Akankah Tuhan jatuh ‘’Cinta’’ kepada manusia seperti kita ini?, Sementara kita ini hanya sebahagian yang sangat kecil dari alam semesta ini..

Ayat kedua “Allaahus Shomad’ : Tempat meminta segala sesuatu. Pemaknaan kita terhadap ayat ini akan lekas kepada sifat kedermawanan Tuhan. Meminta, sangat berhubungan dengan sesuatu yang bersifat materi, “aku meminta uang kepada Ibu” sangat bermateri. Apakah Tuhan materialistik?, Sementara Tuhan tidak mengukur manusia dengan kekayaan. Bentuk tubuh dan apapun itu melainkan hanya dari segi ketakwaan. Kita sempat melupakan kata “pinta” (cintailah aku, hanya itu yang aku pinta). Kata-kata ‘’pinta’’ cocoknya dengan sesuatu yang inmateri atau tidak bermateri. Bagaimana jika seumpama diartikan “Allaahu Shomad”: Tempat meminta segala Pinta.

Dalam terjemahan Al-Qur’an yang lain bermakna: Adalah Tuhan yang bergantung padanya segala sesuatu. Yang bergantung itu adalah beban, hidup ini dipenuhi dengan beban / persoalan. Hanya kepada Ia lah satu-satunya yang meliputi segala misteri dan rahasia-rahasia tempat manusia menggantungkan keluh kesah, rasa dan asa. Akankah kita meminta rezeki kepada Tuhan berupa emas ataupun permata?, Ataukah kita meminta untuk dibukakan pintu-pintu pengetahuan agar kita lekas mengetahui dari mana memulai pekerjaan yang terbaik?...

Ayat ketiga “ lam yalid walam yuulad” : Tidak beranak dan juga tidak diperanakkan. Mari kita obrolkan, Tuhan tidak beranak, Dan mari kita mengurusi kata anak. Anak berawal dari air mani dan sel ovum. Di obrolan selanjutnya kita akan bahas lebih mendalam. Anak lahir karena bersenggama, sangatlah jauh untuk Tuhan berkegiatan seperti itu. Mari kembali lagi, dengan Ia Tuhan yang meliputi segala semesta, Sungguh rendah kedudukan Tuhan bila Ia dilahirkan apalagi melahirkan. Mungkinkah Tuhan memerlukan semua itu, Tuhan tidak butuh bersenggama, sebab Ia adalah dzat yang ‘’Maha Cinta’’, Maha Pencipta tanpa reproduksi.  

Ayat keempat “walam yakunlahu kufuwan ahad”Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Ayat ini sebagai pembersih, Bersih dari apapun mengenai pemikiran manusia terhadap-Nya.

Itulah IKHLAS. Sama sekali tidak ada kata-kata Ikhlas di dalam surah Al-Ikhlas. Ikhlas tidak meski disebutkan, Ikhlas adalah bentuk pentauhidan kepada Allah yang Maha Kuasa. 
Kontributor : ARBAMEDIA Team

Terapkan Dua Syarat Pokok Agar Amal Diterima Allah SWT

Gambar: wallpaperislami.com
Semua insan tentu akan berharap atas semua amal ibadah mereka selama hidup di dunia bisa diterima di sisi Allah SWT. Berbagai macam amalan yang diperbuat dan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan, yang mana hal demikian hanya memiliki satu tujuan yang sama. Yakni mencari ridho Allah SWT semata. Sayangnya tidak semua amal perbuatan di dunia ini bisa diterima di sisi-Nya. Melainkan haruslah diikuti dengan syarat yang menjadikan amal tersebut diterima. 

Hal tersebut memang berdasarkan tuntunan yang telah dijelaskan dalam kitab suci Al-Quran dan Sunnah, Yang menjadi pedoman bagi umat manusia di bumi. Bahwasannya ada dua syarat penting yang akan menggiring semua amalan yang kita lakukan setiap hari, untuk dapat diterima dan diridhoi di sisi-Nya. 

Maka selain setiap amal perbuatan dan ibadah ini memiliki rukun dan syarat tersendiri, ada dua syarat pokok yang tidak boleh dilupakan. Oleh karena itu, berikut 2 syarat  yang perlu diperhatikan agar setiap amalan yang kita terapkan bisa diterima di sisi Sang Maha Pencipta Alam Semesta.

Di dalam kitab suci Al-Quran Surat Al-Kahfi ayat 110 yang berbunyi : “ Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.”

Ayat di atas telah ditafsirkan oleh Imam Ibnu katsir, beliau berkata : “ Dua hal ini merupakan dua rukun amal yang diterima. (Jadi suatu amalan) harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Untuk rujukan : Mudzakkirah fil ‘Aqidah, karya Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimy, hal: 9-12).
Untuk lebih detailnya, simak ulasan berikut ini :

1. Prinsip Keikhlasan
Salah satu kunci pokok akan setiap amal agar bisa diterima oleh Allah SWT adalah melakukan segala hal ikhlas karena Allah. Yang mana ketika seorang hamba yang beramal, hanya mengharap ridho dari Allah semata. Yakni tanpa dibarengi dengan sifat riya’ atau ingin dilihat orang, maupun sum’ah (ingin didengar orang lain), Serta tidak sekali pun berharap imbalan dan mencari pujian dari orang. Maka yang demikian itulah akan menghantarkan orang yang beramal tersebut, mampu mencapai syarat untuk diterima semua amalnya. 

Oleh karena itu, betapa pentingnya untuk menumbuhkan rasa keikhlasan ini, agar nantinya mampu menjadi jiwa-jiwa yang mendapat naungan di sisi Allah SWT. Belajar setahap demi setahap memang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Yaitu mengenai apa yang kita lakukan hanyalah untuk menyelesaikan amanat dan mengharap ridho Allah semata.

2. Mengikuti ajaran Rasulullah SAW
Rasulullah SAW merupakan sosok manusia yang dimuliakan dan patut untuk dijadikan suri tauladan bagi setiap umat yang berada di bumi. Berbagai ajaran beliau mampu menjadi petunjuk jalan untuk menggapai ridho Allah SWT. 

Yang mana di antara ajaran –ajaran yang telah termaktub dalam kitab suci Al-quran, memang dijabarkan dalam hadits beliau sebagai penjelas dan wasiat bagi hamba yang beriman. Sehingga tak lupa pula bagi para sahabat dan ulama’ sebagai pewaris Nabi yang berperan menjadi pembimbing, Untuk mengarahkan dan meluruskan ajaran agama yang telah ditetapkan selama ini.

Di dalam kitab suci Al-Quran Surat Ali Imran ayat 31 yang berbunyi : ” Katakanlah (wahai Muhammad), Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah hendaklah kalian mengikutiku, niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Oleh karena itu, Dalam beberapa syarat yang ada di setiap amalan baik, ada 2 hal pokok yang memang tidak boleh diabaikan. Di mana kedua hal tersebut memang merupakan faktor penting akan diterimanya setiap amal perbuatan manusia di dunia.

Kontributor : ARBAMEDIA Team

4 Pola Utama Mendidik Anak Dalam Islam

image: iqrafoundation.com
Kehadiran mereka membahagiakan setiap sela-sela kesibukan, menerangi setiap kegelisahan, melunakkan rintangan dari penatnya pekerjaan setiap harinya. Mereka lah buah hati tambatan jiwa. Dari mereka, Lelah melebur menjadi tenaga, Sedih seketika berubah menjadi bahagia. Seluruh orang tua di dunia akan melakukan apapun yang terbaik untuk anak-anaknya, dalam hal apapun itu. Sering kali niat yang baik akan luntur bila tanpa dibarengi dengan pengalaman atau pengetahuan. 

Mendidik anak, merupakan persoalan yang sangat pelik. Banyaknya berita-berita yang kita dengar setiap harinya, ikut memilukan kehidupan orang tua. Tidak hanya di televisi, bahkan telah merambat ke dalam keluarga kita dewasa ini. Kali ini kita akan sedikit melebar dengan beberapa hadits-hadits dari Rasulullah SAW, mengenai betapa pentingnya mendidik anak dengan empat metode yang akan kita urai di bawah ini.

1. Pendidikan melalui pembiasaan
Masih sangat berlaku pepatah ini “bila guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Terkadang pernah suatu kali seseorang mendiamkan anak-anak di dalam rumah, tanpa sengaja diam itu juga tertular kepada anak-anak. Selanjutnya setiap pagi seseorang mencoba membersihkan halaman rumah, Lambat-laun apa yang dilakukan berupa menyapu dan sebagainya tertular kepada anak-anak.

Menjadi contoh adalah hal yang paling utama. Untuk tahap selanjutnya, setelah orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya pada usia perkembangan, adalah memerintahkan kepada anak apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Q.S Thaha /20:132 “Dan perintahkanlah kepada keluargamu (istri/suami dan anak-anakmu) mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya''.
Hadits Rasulullah SAW menganjurkan untuk membiasakan mendirikan shalat dan membaca Al-Qur’an di dalam rumah. Dengan sendirinya, suara  Al-Qur’an dan ibadah shalat akan memberikan suasana indah dalam kehidupan rumah tangga. Sebab di dalam shalat tersimpan energi positif yang berkutat bagi siapa saja yang melaksanakannya. Dalam hal ini, ayah akan memimpin keluarganya berada dalam energi positif. Tentunya suasana yang dilingkupi energi positif menjadi sumber keakraban tersendiri yang tidak akan ditemukan anak di luar rumah, kecuali di masjid.

Sebaliknya, keluarga yang tidak ada pelaksanaan shalat di dalamnya, di rumah akan terasa hampa, tidak ada rasa yang lain selain rasa hanya sekedar numpang istirahat. Setelah itu anak-anak akan keluar meninggalkan rumah, dan enggan pulang atau berlama-lama di rumah.

Rasulullah SAW bersabda “ Hiasilah atau sinarilah tempat tinggalmu dengan (membiasakan) shalat (berjama’ah) dan (membiasakan) membaca Al-Quran (bersama)”, H.R. Al Baihaqi. Kita tahu secara seksama, Bahwa shalat merupakan syarat akan sesuatu yang menenangkan jiwa, begitu pun dengan Al-Quran. Bacaan Al-Quran akan mengajak pembacanya untuk merenungkan makna-makna atau pesan-pesan yang ada di setiap ayatnya.

2. Pendidikan dengan keteladanan
Anak-anak khususnya pada usia dini, selalu menirukan apa yang dilakukan orang sekitarnya. Jika orang memperhatikan anak-anaknya dan telah masuk pada fase ini, orang tua haruslah berhati-hati karena apa yang dilihatnya tidak hanya membekas, tetapi tertanam di dalam benak anak. Maka dari itu, penting adanya untuk menjaga sikap di depan anak-anak.

Rasulullah SAW mengingatkan akan pentingnya kejujuran, tidak berbohong kepada anak kecil, “Barang siapa berkata kepada anak kecil, ‘marilah ke sini, ini akan aku berikan untukmu’’, kemudian ia tidak memberi, maka ia adalah pendusta” H.R Ahmad. Perlu diingat kembali, Bahwa anak akan meniru seseorang yang ada di sekitarnya. Sementara membohongi anak akan berimbas di masa depannya kelak. Apabila kita dibohongi anak, ada baiknya kita mengingat-ingat, mungkin kebohongan tersebut pernah kita lakukan kepadanya.

3. Pendidikan melalui nasehat dan dialog
Negeri kita ini adalah negeri pengobrol. Tidak sah rasanya bila dalam satu hari kita tidak mengobrol. Sering kali seorang ibu atau ayah melarang anaknya untuk keluar rumah, namun di dalam rumah sang anak tidak diajak mengobrol. Hal demikian hanya dengan sedikit sulutan dari teman-temannya, atau dalam bahasa sekarang kita kenal dengan ‘’doktrin’’, akan menjadikan anak memberontak kepada orang tuanya. Sering pula ketika anak sedang mendapatkan masalah, lantas anak dikenakan hujatan, dimarahi, bahkan dipukul.

Sungguh bahtera keluarga yang harmonis ketika ada dialog di dalamnya. Orang tua bertugas membuka obrolan kepada sang anak apabila anak sedang dirundung masalah. Harapan anak untuk dikuatkan di kala ia memiliki persoalan. Namun jika tidak ada obrolan kepada anak, maka sang anak akan menjauhi rumah, ia akan menceritakan segala keluh kesahnya kepada teman-temannya. Hingga berkuranglah peranan orang tua terhadap anak.

4. Pendidikan melalui pemberian penghargaan atau hukuman
Menanamkan nilai-nilai moral keagamaan, sikap, dan perilaku, juga memerlukan pendekatan atau metode dengan memberikan penghargaan atau dengan hukuman. Bila di awal cerita, sebagaimana pendidikan berjalan dengan pembiasaan dan suri tauladan. Kali ini bagaimana memberikan contoh konkrit kepada sang anak berupa penghargaan, Jika anak ( perempuan/laki-laki ) membantu orang tua di rumah.

Maka orang tua bersegera mengucapkan “terima kasih” kepada sang anak. Hal demikian mengajarkan anak untuk menghargai jerih payah orang lain. Secara tidak langsung juga akan diterapkan anak kepada orang lain nantinya. Untuk selanjutnya, di dalam agama agar orang tua memberikan peringatan kepada anak-anaknya bila pada umur tujuh tahun tidak melaksanakan shalat atau tidak berpuasa. Pembiasaan ini akan mengakrabkan anak kepada kewajiban-kewajiban beragama.

Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anakmu menjalankan shalat jika mereka sudah berusia tujuh tahun. Dan jika sudah berusia sepuluh tahun maka “pukulah” jika tidak mau melaksanakannya dan pisahkanlah tempat tidurnya” , H.R  Abu Daud. 


Kontributor : ARBAMEDIA TEAM - Kediri 

Dahsyatnya Keutamaan Bagi Orang Yang Mempelajari Al-Quran

Gambar: ut.edu.sa
Sungguh indahnya bacaan pada tiap-tiap ayat yang terdapat dalam Al-Quran ketika dilantunkan di setiap waktu. Seakan-akan bumi dan langit tampak indah dan bersemi. Bahkan suasana religi menjadi semerbak, serta mampu menenangkan jiwa dan raga yang lagi diselimuti keresahan, kegelisahan, serta perasaan was-was. Apalagi bila Al-Quran dikaji bersama mulai dari segi Tajwid, Asbabun nuzul, memahami ayat makiyah dan madaniyah, mengetahui maknanya, serta tafsir yang terdapat di dalamnya.
 
Maka sebuah anugerah yang luar biasa bagi siapa saja yang mau mempelajari akan setiap isi yang terkandung dalam kitab suci Al-Quran, yang telah terjaga selama ribuan tahun ini.  Yang mana berbagai keutamaan akan diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang memiliki kiat untuk membaca, mempelajari, menerapkan, bahkan menghafal akan setiap ayat-ayat yang agung ini. Hingga pada akhirnya menjadi petunjuk bagi mereka untuk mencapai jalan hidup yang dibenarkan agama. Lantas apa saja yang menjadi keutamaan bagi setiap orang yang mau mempelajari Al-Quran…?

Dalam suatu kisah yang telah disampaikan oleh Abu Umamah R.A beliau berkata “ Rasulullah SAW telah menganjurkan kami supaya mempelajari Al-Quran, Setelah itu Rasulullah memberitahukan mengenai kelebihan bagi siapa saja yang belajar Al-Quran”.

Dari kisah inilah Baginda Rasul SAW memberikan gambaran secara detail tentang kemuliaan yang akan didapat oleh orang-orang yang mau membaca, serta menghayati akan ayat-ayat dalam Al-Quran.

Rasulullah SAW bersabda : “ Belajarlah kamu tentang Al-Quran, di akhirat kelak dia akan datang kepada ahli-ahlinya. Yang mana di kala itu orang begitu memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk paling indah”. Dan ia bertanya (kepada orang yang pernah membaca Al-Quran), “Apakah kamu mengenaliku…?”, Maka orang yang pernah membaca Al-quran menjawab “ Siapakah kamu…?”  

Maka Al-Quran berkata : “ Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan kamu juga telah bangun malam untukku, dan kamu juga pernah membacaku di siang hari.” kemudian orang yang membaca Al-Quran bertanya “ Adakah kamu Al-Quran..?”, Seketika itu Al-Quran mengakui dan menuntun orang yang pernah membacanya untuk menghadap Allah SWT. Lalu orang yang pernah membaca Al-Quran tersebut diberi kerajaan tangan kanan, dan kekal di tangan kirinya, kemudian diletakkan mahkota di atas kepalanya.” 

Subhanallah, Sungguh luar biasa kemuliaan yang diberikan bagi orang yang cinta terhadap Al-Quran, hingga mau benar-benar membaca serta mempelajari akan setiap makna yang terkandung di dalamnya. Namun hal demikian juga tidak berhenti dari situ saja, bahwa masih banyak lagi keutamaan yang diberikan bagi orang yang mau belajar Al-Quran secara rutin. Di antaranya keistimewaan dan keutamaan tersebut ialah :

# Menjadi manusia yang dimuliakan
Berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhori menjelaskan, Rasulullah SAW bersabda “ Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya.”

Bagi setiap insan yang mau belajar Al-Quran akan menjadi orang yang dimuliakan di dunia dan akhirat. Yang mana memiliki kiat gemar mengkaji serta mengamalkan akan tuntunan yang telah termaktub dalam kitab suci Al-Quran, Maka dapat membangun jiwa-jiwa yang taat dalam beragama.

# Al-Quran Menjadi obat
Hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud menjelaskan, bahwasannya Rasulullah Bersabda “ Hendaknya kamu menggunakan obat-obat : Madu dan Al-Quran.” 

Kitab suci Al-Quran ada obat penenang hati bagi jiwa yang resah dan gundah gelisah. Oleh karena itu, selain menjadi petunjuk jalan yang diridhoi oleh Allah SWT, Al-Quran juga memberikan keistimewaan untuk mengobati penyakit pada jiwa dan raga manusia.

# Mendapat pahala yang berlipat ganda
Dari Hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi menjelaskan, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa yang membaca satu huruf kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi ALIF satu huruf, LAM satu huruf, dan MIM satu huruf.”

Dan masih banyak sekali fadhilah yang didapatkan oleh orang-orang yang mau belajar Al-Quran. Oleh karena itu, memantapkan hati dan pikiran untuk memiliki kiat dalam mendalami serta menghayati firman Allah SWT, merupakan sebuah amal ibadah yang menyimpan keistimewaan dan kedahsyatan di dalamnya. Dan semoga kita menjadi salah satu golongan orang yang menjadi Ahli Quran, serta mendapatkan syafaat di dunia dan di akhirat kelak. Amiin...,

Kontributor : ARBAMEDIA TEAM - Kediri