Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAMI UMUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAMI UMUM. Tampilkan semua postingan

HUKUM NIAT PUASA ROMADHON SATU BULAN PENUH




Image result for HUKUM NIAT PUASA RAMADHAN SATU BULAN PENUH
.
Mas Ahmad adalah seorang santri yang sedang pulang liburan bulan puasa, sudah menjadi kebiasaan di desanya kalau ada santri yang pulang pasti menjadi tempat bertanya masalah agama, entah tanya beneran atau sekedar mengetes, tp itulah yg terjadi. singkat kata Mas Ahmad ditanya oleh tetangganya perihal niat puasa Romadhon.

Penanya         :
bagaimana hukum puasanya orang yang telah niat puasa Romadhon sebulan penuh(dijamak niatnya) diawal malam bulan Romadhon,? apakakah hari selanjutnya tidak perlu niat puasa lagi ??
Mas Ahmad pun menjawab dengan gaya ala peserta bahshul masail.
Mas Ahmad  :
Adapun hukum puasanya seseorang yang niat puasa sebulan penuh (dijamak bahasa santrinya) pada malam awal Romadhon untuk puasa di hari-hari setelah hari pertama  adalah khilaf antar madzhab atau ulama madzhab berbeda pendapat; (1)

1.menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh tersebut chanya cukup untuk puasa satu hari yang pertama saja. sehingga wajib  niat kembali dihari-hari selanjutnya, jika tidak maka tidak sah puasanya di hari-hari selanjutnya tersebut yang tanpa niat, kecuali puasa romadlon hari pertamanya saja.
2.sedangkan menurut imam Malik niat puasa romadlon untuk sebulan penuh sdah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali, yang artinya jika tidak niatpun sudah sah karena niatnya sudah sebulan penuh pada malam hari pertama awal puasa Romadlon tersebut. [ Fathul Mu'in 55, Hasyiya qulyubi wa 'umairoh 2/67, Al majmu' syarah muhadzab 6/303, Hasyiyah al bajuri 1/288,].

Adapun niat puasa sebulan penuh (dijamak bahasa santrinya) pada malam awal puasa romadhon itu sendiri hukumya sunah menurut madzhab Syafi'i, dengan maksud mengambil kemanfaatan bertaqlid pada pendapat Imam Malik. (2)


Oleh. Pengurus Diniyiah ASA
_________________________________________________________________________________ 

 (1)
فلو نوى ليلة اول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الاول ، لكن ينبغى له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذى نسي النية فبه عند مالك كما يسن له ان ينوى اول اليوم الذى نسيها فيه ليحصل له صومه عند ابى حنيفة و واضح ان محله ان قلد و الا كان متلبسا بعبادة فاسدة فى اعتقاده و هو حرام 
Apabila seseorang berniat pada awal malam bulan Ramadhan untuk melakukan puasa keseluruhannya ( 1 bulan full ) maka menurut Madzhab Syafii hal tersebut tidak cukup. Kewajiban niat harus dilakukan pada setiap malamnya. namun madzhab Maliki menyarankan untuk melakukan niat jamak puasa 1 bulan full pada awal malam bulan Ramadhan hal ini untuk menjaga puasa yang lupa tidak diniati, seperti halnya disunahkan niat puasa permulaan hari oleh Madzhab Hanafi bagi seseorang yg lupa niat supaya terhitung puasanya, namun hal tersebut harus dimengerti taqlid dengan madzhab Maliki dan Hanafi supaya tidak terjadi kerancuan beribadah.
(2)
.قولُهُ : ( التَّبْيِيتُ ) أَيْ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَنَا كَالْحَنَابِلَةِ وَالْحَنَفِيَّةِ وَإِنْ اكْتَفَى الْحَنَفِيَّةُ بِالنِّيَّةِ نَهَارًا لِأَنَّ كُلَّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَلِذَلِكَ تَعَدَّدَتْ الْكَفَّارَةُ بِالْوَطْءِ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْهُ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ ، وَعِنْدَنَا لِلَّيْلَةِ الْأُولَى فَقَطْ .
(Keterangan niat di malam hari) artinya pada setiap malam dibulan Ramadhan menurut kalangan Kami (Syafi’iyyah) seperti pendapat kalangan Hanabilah dan Hanafiyyah hanya saja dikalangan Hanafiyyah menganggap cukup bila niatnya dikerjakan pada siang hari.
Sebab setiap hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah tersendiri karenanya diwajibkan membayar banyak kaffaarat (denda pelanggaran) sebab senggama disiang hari disetiap hari-hari ramadhan namun disunahkan dimalam pertama pada bulan ramadhan niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil kemanfaatan bertaqlid pada pendapat Imam Malik yang menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya disemua malam ramadhan dan bagi kami (Syafi’iyyah) niat yang demikian hanya mencukupi pada malam pertama saja. [ Hasyiyah al-Qolyuby V/365 ].

6 Tipe Orang Ini Menjadi Calon Penghuni Surga Firdaus

Sungguh luar biasa keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang mukmin. Yakni diberikan hadiah spesial di sisi-Nya berupa surga firdaus. Yang mana mereka merupakan hamba Allah yang senantiasa menjunjung tinggi akan semua perintah-perintah yang diamanatkan kepada mereka di dunia. Sehingga tidak salah bila mereka diganjar dengan pahala yang begitu besar, hingga diletakkan pada posisi mulia di akhirat kelak.
Gambar: shootalita.wordpress.com
Tipe orang mukmin yang selalu meyakini serta mentaati perintah-perintah Allah SWT ini memang memiliki tanda-tanda yang bisa terlihat oleh kasat mata. Sehingga dengan adanya tanda-tanda tersebut, Allah SWT menjadikan hamba-Nya untuk menjadi salah satu golongan orang mukmin yang dimuliakan-Nya. Seperti apa yang telah dijanjikan Allah dalam kitab suci Al-Quran, surat Al-Mukminun ayat 1 sampai 11.

Dengan adanya hal tersebut, kita sebagai umat beragama tidak terputus dari yang namanya berlomba-lomba untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kita kepada-Nya. Nah, Inilah 6 tipe orang yang akan menjadi calon penghuni surga firdaus.

1. Orang Yang Khusyuk Dalam Menjalankan Ibadahnya
Dalam mengerjakan sholat yang disertai dengan penuh keikhlasan dan khusyuk, maka hal demikian memang menjadi pertanda orang yang mukmin. Sehingga dari situ mereka termasuk golongan orang-orang yang beruntung, dan patut menjadi pewaris surga Firdaus di akhirat kelak.

Q.S Al-Mukminum ayat  1-2 menjelaskan :
“ Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya ”.

2. Orang Yang Selalu Menjaga Ucapannya
Bagi orang-orang yang menjaga diri dari  perkataan buruk yang menjadikannya lupa kepada Allah SWT, Maka hal tersebut memang menjadi salah satu pertanda bahwa mereka termasuk golongan orang-orang mukmin. Dan Allah akan menjadikan mereka termasuk golongan orang yang beruntung, dan dimuliakan di dunia maupun di akhirat. Terlebih lagi menjadi salah satu pewaris surga Firdaus. Subhanallah..!

Hal demikian memang sesuai dengan firman Allah SWT, yang telah termaktub dalam Q.S Al Mu’minun ayat 3 yakni : “ Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna ‘’.

3. Rajin Membayar Zakat
Selalu menunaikan kewajiban zakat, terutama zakat Fitrah dan Mal serta tidak lupa untuk bersedekah, Merupakan tipe orang yang memiliki jiwa sosial tinggi dan patut untuk menjadi sosok orang mukmin yang mendapat kemuliaan. Sehingga tidak salah bagi mereka diganjar oleh Allah SWT berupa surga Firdaus yang dipenuhi dengan kenikmatan abadi.

Hal demikian memang menjadi pertanda bagi orang mukmin yang beruntung, sesuai dengan keterangan dalam Al-quran surat Al-Mu’minun ayat ke-4 yakni : “ Dan orang yang menunaikan zakat ‘’.

4. Orang Yang Selalu Menjaga Kehormatannya
Orang yang selalu menjaga kehormatannya, maka hal demikian memang salah satu tanda-tanda orang yang diberi kemuliaan oleh Allah SWT, yakni di masukkan ke dalam surga Firdaus. Di mana tipe orang yang semacam ini, mereka akan selalu menjaga kemaluannya dan menghindari perkara maksiat yang tentu hal tersebut dilarang oleh Allah SWT. 

Q.S. Al-Mu’minun ayat ke-5 sampai 7 yang berbunyi : “ Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, Maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas ‘’.

5. Orang Yang Menepati Janji Dan Amanat
Memang dalam menjalankan amanat yang diberikan oleh Allah SWT, baik itu amanat orang tua untuk mendidik anaknya, amanat dan kewajiban seorang pemimpin untuk menyejahterakan rakyatnya dan lainnya, memanglah tidak mudah. Akan tetapi, jika seseorang mampu dalam menjalankan semua amanat yang diberikan tersebut, maka Allah SWT akan mengganjarnya dengan kemuliaan yang luar biasa. Yakni salah satunya menjadi pewaris surga Firdaus yang penuh dengan kenikmatan. 

Q.S Al-Mu’minun ayat ke-8 yakni : “ Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya ’’.

6. Selalu Menegakkan Shalatnya
Orang yang memiliki pendirian kuat dalam menjalankan sholat hingga istiqamah, maka ia juga termasuk tanda-tanda dari golongan pewaris surga Firdaus. Selain itu dalam mengerjakan sholat tepat waktu dan penuh dengan ke-istiqomahan ini, juga akan memberikan fadhilah yang cukup luar biasa. 

Q.S  Al Mu’minun ayat ke-9  sampai 11 yang berbunyi : “ Serta orang yang memelihara shalatnya, Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya ’’.

Oleh karena itu, mari kita senantiasa berlomba-lomba beramal kebaikan, sehingga dijadikan oleh Allah SWT termasuk golongan orang-orang mukmin yang menjadi pewaris surga Firdaus di akhirat kelak. Amiin...

Kontributor : Arv. Muh, Rah. Wn  / Asadenanyar.com

Ketahui 6 Perkara Yang Dapat Merusak Amal Baik

Gambar: principalspage.com
Setiap amal baik yang dikerjakan dengan keikhlasan dan benar-benar mengharap ridho dari Sang Pencipta Alam Semesta, akan mendapat pahala yang mampu menuntun hidup menjadi lebih bahagia dunia akhirat. Namun hidup di dunia tidak hanya diselimuti dengan adanya kebaikan semata. Tidak sedikit pula perkara yang menjadi benalu akan setiap amal perbuatan baik itu sendiri. 

Sehingga memang perlu kita sadari, bahwa untuk mencapai puncak kehidupan yang selalu mendapat kenikmatan dan keberkahan di dunia dan akhirat, haruslah dibarengi dengan tekad yang kuat dan penuh perjuangan. Dan setiap alur kehidupan di dunia ini menjadi salah satu faktor penentu akan tercapainya kehidupan selanjutnya, yakni di akhirat kelak.

Di mana mulai dari faktor penentu ini, akan bisa diganjar dengan perkara yang pasti, yakni menjadi golongan Ahli surga yang senantiasa mendapat rahmat dan kenikmatan yang luar biasa dari Allah SWT. Oleh sebab itu jika kita menginginkan semua amal baik yang dikerjakan ini senantiasa diterima dan mendapat ridho dari-Nya, maka perhatikanlah akan perkara yang justru malah merusak akan setiap amal baik yang akan kita kerjakan.

Karena setiap menjalankan amal baik, belum tentu juga semulus apa yang kita bayangkan. Dan terkadang juga dipenuhi dengan ujian yang perlu kita hadapi atau kita sikapi dengan bijak.

Dan inilah 6 perkara yang justru bisa merusak akan setiap amal baik di dunia :

1. Membicarakan Aib Seseorang
Mengerjakan amal baik merupakan suatu perkara yang kita investasikan, agar nantinya Allah SWT senantiasa melindungi serta memberikan rahmat-Nya untuk diri kita, dan memberikan kehidupan yang berkah dunia akhirat. Akan tetapi jika dalam mengerjakan suatu amal baik ini diselingi dengan perkara yang bathil, maka malah akan menjadikan amal baik tersebut rusak. Seperti halnya menyelinginya dengan menyibukkan diri untuk membicarakan aib orang, baik itu dengan cara ghibah, namimah, maupun perkara buruk lainnya. 

Oleh sebab itu setidaknya perkara buruk ini harus kita hindari, agar semua amal baik yang kita lakukan tidak sampai rusak, atau tercampur aduk dengan perkara yang bathil.

2. Hati Yang Keras
Hati yang tertutup dan berubah menjadi keras, akan menjadikan diri menjadi angkuh dan sombong. Meskipun seseorang mengetahui akan kebenaran yang harus ditegakkan dan dijalankan, namun karena adanya hati yang keras ini, maka semua amal baik akan bisa rusak, bahkan bisa menjadi penghalang untuk menuju jalan petunjuk yang diridhoi Allah.

Maka hendaknya kita bisa menjauhi dari sifat kerasnya hati ini, dan mampu membimbing diri kita untuk menuju ke arah yang benar dalam menjalani hidup. Untuk menghindari atau menjauhkan diri dari karakter hati yang keras, sebaiknya seringlah mengingat akan semua karunia yang diberikan Allah kepada kita, yakni hanyalah sebatas titipan dan amanat. Dan suatu ketika semua titipan atau amanat ini akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.

3. Terlalu Cinta Dunia
Memang pada dasarnya semua nikmat  yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita selama hidup di dunia, merupakan fasilitas yang berguna untuk kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi jika kita sampai terlena atau terkena tipu daya setan untuk terus terusan cinta kepada perkara duniawi, hingga pada akhirnya akan lupa urusan akhirat. Maka dari situ akan menjadikan rusaknya semua amal baik yang selama ini kita jalankan. 

Oleh karena itu, gunakanlah perkara duniawi menjadi jalan untuk menggapai akhiratmu. Sebatang kenikmatan yang kita dapatkan, bisa menjadi permata yang indah ketika kita bisa menjadikan sebatang perkara duniawi ini untuk menggapai ridho Allah SWT. 

4. Sedikit Rasa Malu
Sesuai dengan sabda Nabi yang telah termaktub dalam Hadits Shahih bukhari, menjelaskan bahwa: “ Sesungguhnya malu adalah sebagian dari Iman ’’. Kata malu yang dimaksud yakni malu kepada Allah Untuk melakukan perbuatan keji. Dan bagi setiap insan yang kehilangan rasa malunya dan berbuat sesuka hati, tanpa memperhatikan akan setiap batasan dan tuntunan agama yang telah diajarkan, maka hal tersebut mampu merusak setiap perbuatan atau amal baik yang dilakukan. Di mana seseorang akan mudah sekali lengah, dan lupa akan tuntunan agama tersebut, serta terjerumus pada perkara buruk yang dilaknat oleh Allah SWT. 

Oleh karena itu, menjaga hati dan pikiran untuk selalu mengingat akan kebesaran-Nya itu amat diperlukan. Dengan begitu akan menjadikan diri untuk selalu memperkokoh keimanan, serta menjauhi akan larangan yang telah ditetapkan. 

5. Panjang Angan-angan
Hal demikian memang sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Sahabat Ali Bin Abi Thalib R.A, Beliau berwasiat : 

“ Yang saya sangat khawatirkan atas kamu adalah dua macam yaitu: Panjang angan-angan dan menuruti hawa nafsu. Karena panjang angan-angan itu dapat melupakan akhirat dan menurutkan hawa nafsu itu menghalangi dari kebenaran (hak). ”

Bagi setiap insan yang memiliki panjang angan-angan ini disebabkan oleh dua hal, yakni karena kebodohan dan terlalu cinta dunia. Di mana kedua faktor ini, akan selalu mengarahkan jiwa dan raga seseorang untuk terus menerus meraih perkara dunia tanpa henti. Hingga pada akhirnya melupakan urusan akhirat, yang sebenarnya menjadi perkara yang harus dilaksanakan dan diperkokoh.

Sehingga dari situ akan menjadikan seseorang untuk menghalalkan berbagai macam cara dalam menggapai perkara dunia yang dituju. Alhasil, Semua amal baik yang sebenarnya menjadi petunjuk bagi dirinya, kini telah rusak akibat mata hati yang telah terlena dengan adanya sifat ini.

6. Berbuat Kedzaliman Yang Tiada Henti
Sungguh besar karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada setiap makhluk-Nya. Rizki yang di dapat memang haruslah dibarengi dengan rasa syukur yang ditujukan hanya kepada-Nya. Dan jika kita kurang menyukuri tentang pemberian nikmat ini, maka akan memicu seseorang untuk berbuat dzalim.

Sehingga dari kdzaliman tersebut akan bisa merusak semua amal baik yang kita lakukan. Layaknya memberikan sebagian rizki kepada seorang yang kurang mampu, namun dibarengi dengan riya’, bukankah demikian itu akan bisa menghapus pahala dari amal baik yang telah diperbuat..?. Itulah mengapa kedzaliman ini mampu merusak akan setiap amal baik yang hendak dikerjakan.

Beberapa perkara di atas memang didasarkan kepada hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami, dari rawinya Imam Adi bin Hatim. Bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

" Enam perkara yang bisa melebur amal kebaikan  : Sibuk mencari aib  orang lain , keras hati, terlalu cinta dunia, sedikit rasa malu, panjang lamunan / khayalan, dan kedzaliman yang tidak pernah berhenti "

Semoga dari adanya enam perkara tersebut bisa kita hindari, dan mampu menerapkan semua amal baik dengan penuh keikhlasan. Serta dengan semata-mata hanya mengharap ridho dari Sang Pencipta alam semesta. Amiin.... 
Kontributor : ARBAMEDIA Team

Makna "Ikhlas" Yang Tersembunyi Dalam Surah Al-Ikhlas

image: wallpaperes.altervista.org
Tuhan merupakan zat yang tak akan pernah kita ketahui kepastiannya, namun Ia mengagungkan diriNya dengan bahasa, bahasa Al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an memberikan larangan untuk memikirkan zat Allah, namun Allah memberi manusia petunjuk untuk memkirkan apa-apa yang telah Ia ciptakan.

Allah memberikan kita petunjuk berupa Al-Qur’an, dibutuhkan pemahaman yang baik untuk mengetahui isi petunjuk tersebut. Surah Al-Ikhlas, Surah pendek berisi empat ayat, dinamakan Al-Ikhlas tetapi sama sekali tidak ada kata Ikhlas di dalamnya. Apa maksud yang hendak disampaikan Oleh Allah swt..?,  Mari kita simak..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Ayat pertama “qul huwallaahu ahad” : Katakanlah Tuhan itu Ahad.
Dalam terjemah Al-Quran yang lain diartikannya “katakanlah Tuhan itu Esa”, ada juga yang mengartikannya “katakanlah Tuhan itu Satu”.

Engkau yang satu, apakah sama pemaknaan satu sebagai contoh satu ‘’Dian’’  dengan satu ‘’Tuhan’’?, Benarkah satu itu tidak ada unsur lain?. ‘’Dian’’ satu, tetapi ada dua tangan, dua kaki, dua telinga, dua mata. Tetapi Dian tetaplah satu, Satu atau Tunggal. Seorang lelaki menikah dengan perempuan akan membentuk satu keluarga. Dua orang tetapi dinamakan “satu” keluarga. Satu disini bermakna penyatuan dua unsur yang menjadi satu.

Namun, Tuhan tidak membutuhkan pasangan, adakah Tuhan kesepian?, Tuhan tidaklah sendiri, tidak juga banyak, sebagaimana banyaknya manusia. Tuhan bersama dengan ciptaan-Nya : kerjasama tim, sebagaimana keluarga antara suami dan istri. Maka Tuhan beserta Malaikat-malaikat-Nya dan dengan segala yang Ia cipta.

Tuhan meliputi segalanya, meliputi alam semesta, meliputi malaikat-malaikat-Nya, Serta meliputi apapun itu. Itulah ahad, satu atau Tunggal. Dalam konsepsi Jawa, kita kenal dengan kata manunggaling kawula gusti. Manunggal: satu. Dalam konsepsi kenegaraan kita kenal dengan kata Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka: berbeda-beda / beragam, Ika: Satu. Jadi apa makna dari Tunggal?, Bisakah diartikan “tetapi”?, Dalam tunggal itu ada keberagaman.

Tuhan adalah dzat yang Maha Sempurna. Kita tidak akan pernah tau bagaimana dzat Tuhan yang sebenarnya, namun penting adanya untuk mengetahui agar terbangun pemahaman bila Ia benar-benar berbeda dengan makhluk-Nya. Dalam Surah Al-Ikhlas dijelaskan, “katakanlah Tuhan itu satu”, kalimat ini merupakan kalimat impressive. Muhammad diperintahkan oleh Tuhan melalui Jibril untuk mengakui bila Tuhan itu satu. Ayat ini juga dikenal dengan ayat Tauhid. Muhammad dikuatkan kembali dengan pengakuan tersebut, sekaligus sebagai peringatan kepada umatnya agar melakukan perjalanan-perjalanan “tauhid”. Sebagaimana pula yang dilakukan  Ibrahim dalam proses pen-Tauhidannya.

Dalam bahasa sederhana “katakanlah Dian, itu adalah kekasihku”. Seseorang memerintahkanku untuk mengakui jika Dian adalah kekasihku. Malaikat menguatkan keyakinan Muhammad dengan persaksiannya “Tuhan itu satu”. Begitupun dengan aku yang bersaksi tentang “Dian adalah kekasihku”. Ada pengakuan di dalamnya atau mengikrarkan diri. Ayat kedua dari Surah Al-Fatihah sebagai penjelas tentang Tuhan yang satu, siapakah Tuhan yang satu itu? “alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin”: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tuhan yang satu, meliputi seluruh semesta (Baca: Gus Mus). Akankah Tuhan kesepian?, Jawabannya tidaklah mungkin Tuhan kesepian, karena Ia adalah yang Maha Cinta?, ialah Tuhan yang meliputi alam semesta.

Kemudian pertanyaan bagi kita semua, Akankah Tuhan jatuh ‘’Cinta’’ kepada manusia seperti kita ini?, Sementara kita ini hanya sebahagian yang sangat kecil dari alam semesta ini..

Ayat kedua “Allaahus Shomad’ : Tempat meminta segala sesuatu. Pemaknaan kita terhadap ayat ini akan lekas kepada sifat kedermawanan Tuhan. Meminta, sangat berhubungan dengan sesuatu yang bersifat materi, “aku meminta uang kepada Ibu” sangat bermateri. Apakah Tuhan materialistik?, Sementara Tuhan tidak mengukur manusia dengan kekayaan. Bentuk tubuh dan apapun itu melainkan hanya dari segi ketakwaan. Kita sempat melupakan kata “pinta” (cintailah aku, hanya itu yang aku pinta). Kata-kata ‘’pinta’’ cocoknya dengan sesuatu yang inmateri atau tidak bermateri. Bagaimana jika seumpama diartikan “Allaahu Shomad”: Tempat meminta segala Pinta.

Dalam terjemahan Al-Qur’an yang lain bermakna: Adalah Tuhan yang bergantung padanya segala sesuatu. Yang bergantung itu adalah beban, hidup ini dipenuhi dengan beban / persoalan. Hanya kepada Ia lah satu-satunya yang meliputi segala misteri dan rahasia-rahasia tempat manusia menggantungkan keluh kesah, rasa dan asa. Akankah kita meminta rezeki kepada Tuhan berupa emas ataupun permata?, Ataukah kita meminta untuk dibukakan pintu-pintu pengetahuan agar kita lekas mengetahui dari mana memulai pekerjaan yang terbaik?...

Ayat ketiga “ lam yalid walam yuulad” : Tidak beranak dan juga tidak diperanakkan. Mari kita obrolkan, Tuhan tidak beranak, Dan mari kita mengurusi kata anak. Anak berawal dari air mani dan sel ovum. Di obrolan selanjutnya kita akan bahas lebih mendalam. Anak lahir karena bersenggama, sangatlah jauh untuk Tuhan berkegiatan seperti itu. Mari kembali lagi, dengan Ia Tuhan yang meliputi segala semesta, Sungguh rendah kedudukan Tuhan bila Ia dilahirkan apalagi melahirkan. Mungkinkah Tuhan memerlukan semua itu, Tuhan tidak butuh bersenggama, sebab Ia adalah dzat yang ‘’Maha Cinta’’, Maha Pencipta tanpa reproduksi.  

Ayat keempat “walam yakunlahu kufuwan ahad”Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Ayat ini sebagai pembersih, Bersih dari apapun mengenai pemikiran manusia terhadap-Nya.

Itulah IKHLAS. Sama sekali tidak ada kata-kata Ikhlas di dalam surah Al-Ikhlas. Ikhlas tidak meski disebutkan, Ikhlas adalah bentuk pentauhidan kepada Allah yang Maha Kuasa. 
Kontributor : ARBAMEDIA Team

Terapkan Dua Syarat Pokok Agar Amal Diterima Allah SWT

Gambar: wallpaperislami.com
Semua insan tentu akan berharap atas semua amal ibadah mereka selama hidup di dunia bisa diterima di sisi Allah SWT. Berbagai macam amalan yang diperbuat dan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan, yang mana hal demikian hanya memiliki satu tujuan yang sama. Yakni mencari ridho Allah SWT semata. Sayangnya tidak semua amal perbuatan di dunia ini bisa diterima di sisi-Nya. Melainkan haruslah diikuti dengan syarat yang menjadikan amal tersebut diterima. 

Hal tersebut memang berdasarkan tuntunan yang telah dijelaskan dalam kitab suci Al-Quran dan Sunnah, Yang menjadi pedoman bagi umat manusia di bumi. Bahwasannya ada dua syarat penting yang akan menggiring semua amalan yang kita lakukan setiap hari, untuk dapat diterima dan diridhoi di sisi-Nya. 

Maka selain setiap amal perbuatan dan ibadah ini memiliki rukun dan syarat tersendiri, ada dua syarat pokok yang tidak boleh dilupakan. Oleh karena itu, berikut 2 syarat  yang perlu diperhatikan agar setiap amalan yang kita terapkan bisa diterima di sisi Sang Maha Pencipta Alam Semesta.

Di dalam kitab suci Al-Quran Surat Al-Kahfi ayat 110 yang berbunyi : “ Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.”

Ayat di atas telah ditafsirkan oleh Imam Ibnu katsir, beliau berkata : “ Dua hal ini merupakan dua rukun amal yang diterima. (Jadi suatu amalan) harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Untuk rujukan : Mudzakkirah fil ‘Aqidah, karya Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimy, hal: 9-12).
Untuk lebih detailnya, simak ulasan berikut ini :

1. Prinsip Keikhlasan
Salah satu kunci pokok akan setiap amal agar bisa diterima oleh Allah SWT adalah melakukan segala hal ikhlas karena Allah. Yang mana ketika seorang hamba yang beramal, hanya mengharap ridho dari Allah semata. Yakni tanpa dibarengi dengan sifat riya’ atau ingin dilihat orang, maupun sum’ah (ingin didengar orang lain), Serta tidak sekali pun berharap imbalan dan mencari pujian dari orang. Maka yang demikian itulah akan menghantarkan orang yang beramal tersebut, mampu mencapai syarat untuk diterima semua amalnya. 

Oleh karena itu, betapa pentingnya untuk menumbuhkan rasa keikhlasan ini, agar nantinya mampu menjadi jiwa-jiwa yang mendapat naungan di sisi Allah SWT. Belajar setahap demi setahap memang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Yaitu mengenai apa yang kita lakukan hanyalah untuk menyelesaikan amanat dan mengharap ridho Allah semata.

2. Mengikuti ajaran Rasulullah SAW
Rasulullah SAW merupakan sosok manusia yang dimuliakan dan patut untuk dijadikan suri tauladan bagi setiap umat yang berada di bumi. Berbagai ajaran beliau mampu menjadi petunjuk jalan untuk menggapai ridho Allah SWT. 

Yang mana di antara ajaran –ajaran yang telah termaktub dalam kitab suci Al-quran, memang dijabarkan dalam hadits beliau sebagai penjelas dan wasiat bagi hamba yang beriman. Sehingga tak lupa pula bagi para sahabat dan ulama’ sebagai pewaris Nabi yang berperan menjadi pembimbing, Untuk mengarahkan dan meluruskan ajaran agama yang telah ditetapkan selama ini.

Di dalam kitab suci Al-Quran Surat Ali Imran ayat 31 yang berbunyi : ” Katakanlah (wahai Muhammad), Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah hendaklah kalian mengikutiku, niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Oleh karena itu, Dalam beberapa syarat yang ada di setiap amalan baik, ada 2 hal pokok yang memang tidak boleh diabaikan. Di mana kedua hal tersebut memang merupakan faktor penting akan diterimanya setiap amal perbuatan manusia di dunia.

Kontributor : ARBAMEDIA Team

4 Pola Utama Mendidik Anak Dalam Islam

image: iqrafoundation.com
Kehadiran mereka membahagiakan setiap sela-sela kesibukan, menerangi setiap kegelisahan, melunakkan rintangan dari penatnya pekerjaan setiap harinya. Mereka lah buah hati tambatan jiwa. Dari mereka, Lelah melebur menjadi tenaga, Sedih seketika berubah menjadi bahagia. Seluruh orang tua di dunia akan melakukan apapun yang terbaik untuk anak-anaknya, dalam hal apapun itu. Sering kali niat yang baik akan luntur bila tanpa dibarengi dengan pengalaman atau pengetahuan. 

Mendidik anak, merupakan persoalan yang sangat pelik. Banyaknya berita-berita yang kita dengar setiap harinya, ikut memilukan kehidupan orang tua. Tidak hanya di televisi, bahkan telah merambat ke dalam keluarga kita dewasa ini. Kali ini kita akan sedikit melebar dengan beberapa hadits-hadits dari Rasulullah SAW, mengenai betapa pentingnya mendidik anak dengan empat metode yang akan kita urai di bawah ini.

1. Pendidikan melalui pembiasaan
Masih sangat berlaku pepatah ini “bila guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Terkadang pernah suatu kali seseorang mendiamkan anak-anak di dalam rumah, tanpa sengaja diam itu juga tertular kepada anak-anak. Selanjutnya setiap pagi seseorang mencoba membersihkan halaman rumah, Lambat-laun apa yang dilakukan berupa menyapu dan sebagainya tertular kepada anak-anak.

Menjadi contoh adalah hal yang paling utama. Untuk tahap selanjutnya, setelah orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya pada usia perkembangan, adalah memerintahkan kepada anak apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Q.S Thaha /20:132 “Dan perintahkanlah kepada keluargamu (istri/suami dan anak-anakmu) mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya''.
Hadits Rasulullah SAW menganjurkan untuk membiasakan mendirikan shalat dan membaca Al-Qur’an di dalam rumah. Dengan sendirinya, suara  Al-Qur’an dan ibadah shalat akan memberikan suasana indah dalam kehidupan rumah tangga. Sebab di dalam shalat tersimpan energi positif yang berkutat bagi siapa saja yang melaksanakannya. Dalam hal ini, ayah akan memimpin keluarganya berada dalam energi positif. Tentunya suasana yang dilingkupi energi positif menjadi sumber keakraban tersendiri yang tidak akan ditemukan anak di luar rumah, kecuali di masjid.

Sebaliknya, keluarga yang tidak ada pelaksanaan shalat di dalamnya, di rumah akan terasa hampa, tidak ada rasa yang lain selain rasa hanya sekedar numpang istirahat. Setelah itu anak-anak akan keluar meninggalkan rumah, dan enggan pulang atau berlama-lama di rumah.

Rasulullah SAW bersabda “ Hiasilah atau sinarilah tempat tinggalmu dengan (membiasakan) shalat (berjama’ah) dan (membiasakan) membaca Al-Quran (bersama)”, H.R. Al Baihaqi. Kita tahu secara seksama, Bahwa shalat merupakan syarat akan sesuatu yang menenangkan jiwa, begitu pun dengan Al-Quran. Bacaan Al-Quran akan mengajak pembacanya untuk merenungkan makna-makna atau pesan-pesan yang ada di setiap ayatnya.

2. Pendidikan dengan keteladanan
Anak-anak khususnya pada usia dini, selalu menirukan apa yang dilakukan orang sekitarnya. Jika orang memperhatikan anak-anaknya dan telah masuk pada fase ini, orang tua haruslah berhati-hati karena apa yang dilihatnya tidak hanya membekas, tetapi tertanam di dalam benak anak. Maka dari itu, penting adanya untuk menjaga sikap di depan anak-anak.

Rasulullah SAW mengingatkan akan pentingnya kejujuran, tidak berbohong kepada anak kecil, “Barang siapa berkata kepada anak kecil, ‘marilah ke sini, ini akan aku berikan untukmu’’, kemudian ia tidak memberi, maka ia adalah pendusta” H.R Ahmad. Perlu diingat kembali, Bahwa anak akan meniru seseorang yang ada di sekitarnya. Sementara membohongi anak akan berimbas di masa depannya kelak. Apabila kita dibohongi anak, ada baiknya kita mengingat-ingat, mungkin kebohongan tersebut pernah kita lakukan kepadanya.

3. Pendidikan melalui nasehat dan dialog
Negeri kita ini adalah negeri pengobrol. Tidak sah rasanya bila dalam satu hari kita tidak mengobrol. Sering kali seorang ibu atau ayah melarang anaknya untuk keluar rumah, namun di dalam rumah sang anak tidak diajak mengobrol. Hal demikian hanya dengan sedikit sulutan dari teman-temannya, atau dalam bahasa sekarang kita kenal dengan ‘’doktrin’’, akan menjadikan anak memberontak kepada orang tuanya. Sering pula ketika anak sedang mendapatkan masalah, lantas anak dikenakan hujatan, dimarahi, bahkan dipukul.

Sungguh bahtera keluarga yang harmonis ketika ada dialog di dalamnya. Orang tua bertugas membuka obrolan kepada sang anak apabila anak sedang dirundung masalah. Harapan anak untuk dikuatkan di kala ia memiliki persoalan. Namun jika tidak ada obrolan kepada anak, maka sang anak akan menjauhi rumah, ia akan menceritakan segala keluh kesahnya kepada teman-temannya. Hingga berkuranglah peranan orang tua terhadap anak.

4. Pendidikan melalui pemberian penghargaan atau hukuman
Menanamkan nilai-nilai moral keagamaan, sikap, dan perilaku, juga memerlukan pendekatan atau metode dengan memberikan penghargaan atau dengan hukuman. Bila di awal cerita, sebagaimana pendidikan berjalan dengan pembiasaan dan suri tauladan. Kali ini bagaimana memberikan contoh konkrit kepada sang anak berupa penghargaan, Jika anak ( perempuan/laki-laki ) membantu orang tua di rumah.

Maka orang tua bersegera mengucapkan “terima kasih” kepada sang anak. Hal demikian mengajarkan anak untuk menghargai jerih payah orang lain. Secara tidak langsung juga akan diterapkan anak kepada orang lain nantinya. Untuk selanjutnya, di dalam agama agar orang tua memberikan peringatan kepada anak-anaknya bila pada umur tujuh tahun tidak melaksanakan shalat atau tidak berpuasa. Pembiasaan ini akan mengakrabkan anak kepada kewajiban-kewajiban beragama.

Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anakmu menjalankan shalat jika mereka sudah berusia tujuh tahun. Dan jika sudah berusia sepuluh tahun maka “pukulah” jika tidak mau melaksanakannya dan pisahkanlah tempat tidurnya” , H.R  Abu Daud. 


Kontributor : ARBAMEDIA TEAM - Kediri 

Dahsyatnya Keutamaan Bagi Orang Yang Mempelajari Al-Quran

Gambar: ut.edu.sa
Sungguh indahnya bacaan pada tiap-tiap ayat yang terdapat dalam Al-Quran ketika dilantunkan di setiap waktu. Seakan-akan bumi dan langit tampak indah dan bersemi. Bahkan suasana religi menjadi semerbak, serta mampu menenangkan jiwa dan raga yang lagi diselimuti keresahan, kegelisahan, serta perasaan was-was. Apalagi bila Al-Quran dikaji bersama mulai dari segi Tajwid, Asbabun nuzul, memahami ayat makiyah dan madaniyah, mengetahui maknanya, serta tafsir yang terdapat di dalamnya.
 
Maka sebuah anugerah yang luar biasa bagi siapa saja yang mau mempelajari akan setiap isi yang terkandung dalam kitab suci Al-Quran, yang telah terjaga selama ribuan tahun ini.  Yang mana berbagai keutamaan akan diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang memiliki kiat untuk membaca, mempelajari, menerapkan, bahkan menghafal akan setiap ayat-ayat yang agung ini. Hingga pada akhirnya menjadi petunjuk bagi mereka untuk mencapai jalan hidup yang dibenarkan agama. Lantas apa saja yang menjadi keutamaan bagi setiap orang yang mau mempelajari Al-Quran…?

Dalam suatu kisah yang telah disampaikan oleh Abu Umamah R.A beliau berkata “ Rasulullah SAW telah menganjurkan kami supaya mempelajari Al-Quran, Setelah itu Rasulullah memberitahukan mengenai kelebihan bagi siapa saja yang belajar Al-Quran”.

Dari kisah inilah Baginda Rasul SAW memberikan gambaran secara detail tentang kemuliaan yang akan didapat oleh orang-orang yang mau membaca, serta menghayati akan ayat-ayat dalam Al-Quran.

Rasulullah SAW bersabda : “ Belajarlah kamu tentang Al-Quran, di akhirat kelak dia akan datang kepada ahli-ahlinya. Yang mana di kala itu orang begitu memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk paling indah”. Dan ia bertanya (kepada orang yang pernah membaca Al-Quran), “Apakah kamu mengenaliku…?”, Maka orang yang pernah membaca Al-quran menjawab “ Siapakah kamu…?”  

Maka Al-Quran berkata : “ Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan kamu juga telah bangun malam untukku, dan kamu juga pernah membacaku di siang hari.” kemudian orang yang membaca Al-Quran bertanya “ Adakah kamu Al-Quran..?”, Seketika itu Al-Quran mengakui dan menuntun orang yang pernah membacanya untuk menghadap Allah SWT. Lalu orang yang pernah membaca Al-Quran tersebut diberi kerajaan tangan kanan, dan kekal di tangan kirinya, kemudian diletakkan mahkota di atas kepalanya.” 

Subhanallah, Sungguh luar biasa kemuliaan yang diberikan bagi orang yang cinta terhadap Al-Quran, hingga mau benar-benar membaca serta mempelajari akan setiap makna yang terkandung di dalamnya. Namun hal demikian juga tidak berhenti dari situ saja, bahwa masih banyak lagi keutamaan yang diberikan bagi orang yang mau belajar Al-Quran secara rutin. Di antaranya keistimewaan dan keutamaan tersebut ialah :

# Menjadi manusia yang dimuliakan
Berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhori menjelaskan, Rasulullah SAW bersabda “ Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya.”

Bagi setiap insan yang mau belajar Al-Quran akan menjadi orang yang dimuliakan di dunia dan akhirat. Yang mana memiliki kiat gemar mengkaji serta mengamalkan akan tuntunan yang telah termaktub dalam kitab suci Al-Quran, Maka dapat membangun jiwa-jiwa yang taat dalam beragama.

# Al-Quran Menjadi obat
Hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud menjelaskan, bahwasannya Rasulullah Bersabda “ Hendaknya kamu menggunakan obat-obat : Madu dan Al-Quran.” 

Kitab suci Al-Quran ada obat penenang hati bagi jiwa yang resah dan gundah gelisah. Oleh karena itu, selain menjadi petunjuk jalan yang diridhoi oleh Allah SWT, Al-Quran juga memberikan keistimewaan untuk mengobati penyakit pada jiwa dan raga manusia.

# Mendapat pahala yang berlipat ganda
Dari Hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi menjelaskan, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa yang membaca satu huruf kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi ALIF satu huruf, LAM satu huruf, dan MIM satu huruf.”

Dan masih banyak sekali fadhilah yang didapatkan oleh orang-orang yang mau belajar Al-Quran. Oleh karena itu, memantapkan hati dan pikiran untuk memiliki kiat dalam mendalami serta menghayati firman Allah SWT, merupakan sebuah amal ibadah yang menyimpan keistimewaan dan kedahsyatan di dalamnya. Dan semoga kita menjadi salah satu golongan orang yang menjadi Ahli Quran, serta mendapatkan syafaat di dunia dan di akhirat kelak. Amiin...,

Kontributor : ARBAMEDIA TEAM - Kediri 

Inilah Yang Terjadi Jika Telinga ''Dikencingi'' Setan

Gambar: pexels.com
Berbagai macam cara setan menggoda umat manusia di bumi. Mereka tiada berhenti untuk terus membisiki setiap insan agar membelok dari apa yang telah diajarkan agama. Mereka pun tak memiliki rasa lelah, hingga pada akhirnya bisa mengajak manusia untuk menuju kedzaliman, Yang tentunya perkara tersebut dilaknat oleh Allah SWT. Dan bagi hamba yang beriman serta selalu taat dalam menjalankan perintah-perintah agama, mereka akan diberikan petunjuk dan keselamatan akan godaan-godaan setan yang terkutuk.

Jika kita melihat dari cara setan menggoda manusia, maka akan mampu menjadikan diri lebih waspada untuk selalu mengokohkan keimanan, serta memperbanyak amal sholeh yang diridhoi oleh Allah SWT. Salah satu godaan setan ini telah dijelaskan dalam sebuah hadits sahih :

‘’ Yakni setan mampu mengencingi dan memperdaya kedua telinga  manusia, hingga menjadikan manusia tak mampu lagi mendengarkan perkataan baik, serta lalai akan perintah-perintah Allah SWT ’’.

Dalam sebuah hadits telah menjelaskan mengenai suatu perkara yang cukup memprihatinkan. Yang mana terdapat seseorang yang tidur semalaman hingga bangun di waktu pagi, sampai-sampai ia lalai akan perintah agama dan meninggalkan waktu subuh. Sehingga dengan adanya perkara tersebut, Rasulullah telah memberitahukan akan sebab yang menjadikan seorang tersebut seperti itu.

Berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari rawi keduanya Yakni  Ibnu Mas’ud R.A, beliau berkata di hadapan Rasulullah SAW “ Disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman hingga waktu pagi ( kehilangan waktu subuhnya). Maka Baginda Rasul SAW bersabda : “ Laki-laki itu telah dikencingi setan pada kedua telinganya”.

Pada hadits di atas, ada sebagian ulama’ yang menafsirkan hadits ini, Bahwa yang dimaksud dengan kalimat “mengencingi” di sini merupakan sebuah majaz, yang berarti setan telah merayakan keberhasilan akan tipu daya yang dilakukan. Atau sebuah majaz yang berarti setan telah bergembira, karena berhasil menggoda manusia untuk ingkar pada tuntunan agama. Namun di sisi lain menurut penjelasan Al-Qadhiyadh telah memahami hadits tersebut secara tekstual, yang berarti setan benar-benar mengencingi pada telinga orang tersebut.

Setan memang diciptakan dalam bentuk jasad yang tak terlihat pada kasat mata, dan bagaimana pun bentuknya, mereka tetaplah menjadi musuh yang nyata bagi manusia yang selalu taat akan perintah-perintah Allah SWT. Oleh karena itu, tipu daya setan ini harus diwaspadai, agar tidak sampai menjerumuskan manusia pada jalan yang sesat.

Menurut sebagian ulama’ lainnya juga menafsirkan hadits di atas, Bahwa yang dimaksud (orang yang tidur hingga pagi hari) yaitu sampai lupa akan sholat shubuh. Sehingga memang sangat penting bagi setiap hamba yang beriman untuk tidak meninggalkan ibadah fardhu yang telah diwajibkan. Apalagi sampai tidak bangun untuk menjalankan sholat subuh, sudah tentu hal tersebut dilarang, dan akan mendapat dosa besar bagi siapa saja yang meninggalkan shalat fardhu.

Telah diriwayatkan dari sahabat Anas Bin Malik R.A, bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Jika salah seorang di antara kalian tertidur atau lalai dari shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), “ Kerjakanlah shalat ketika ingat.” ( HR. Imam Bukhari Dan Imam Muslim).

Dari paparan di atas, Setan merupakan makhluk yang dilaknat dan menjadikan keimanan manusia lemah. Serta menyesatkan setiap insan pada jalan kemaksiatan, kemalasan, ingkar pada perintah Allah SWT, yang semuanya itu akan mendapat adzab yang amat pedih di dunia dan akhirat kelak. 

Oleh sebab itulah, Semoga kita bisa selalu diberikan rasa semangat dalam menjalankan semua perintah Allah SWT, Dan selalu berlomba-lomba untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan yang ditujukan hanya kepada-Nya semata. 

Kontributor : ARBAMEDIA TEAM - Kediri  

4 Tingkatan Nama Manusia Yang Dijelaskan Dalam Al - Quran

image: deviantart.net
Ada sebuah pepatah dari cendekiawan kita yang mengatakan “orang bijak bukanlah orang yang mampu  melerai pertikaian’’, Melainkan orang bijak adalah orang yang mampu mengambil satu kesimpulan di antara dua persoalan yang sama buruknya”. Manusialah pelaksana tugasnya, Yang melerai, mengambil kesimpulan, serta manusia pulalah yang merusak kemudian membangun kembali dan merusak lagi. Bahkan membuat baru dan kembali memperbaiki. 

Untuk mencapai kesempurnaan menjadi yang sebenarnya manusia, pastinya memerlukan tahap tahap tertentu. Sebagaimana manusia, yang awalnya tiada dan dengan kekuasaan Ilahi ia bermukim di dalam rahim, dan kelahirannya pun senantiasa  dirayakan. Setelah itu, manusia bergelar menjadi balita, remaja, dewasa, berumur kemudian tua dan tiada.

Lantas, bagaimana pandangan Al-Qur’an menilai manusia?. Suatu ketika kehadiran manusia dengan segala kebijaksanaannya dinanti-nanti, serta ketidakhadirannya dirindukan. Ada pula manusia yang lain sibuk menilai manusia lainnya. Ada lagi manusia yang sibuk untuk berkarya agar ‘’dianggap’’, ada juga agar menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi sesamanya. Namun menghina dan menghardik orang lain, Seolah-olah menjadi hukum kehidupan. Sementara, dalam Al-Quran telah menyebutkan nama-nama manusia dengan memiliki 4 makna, serta tingkatan yang perlu anda ketahui. Berikut keterangannya :

1.  Al-Qur’an menggelar manusia dengan sebutan Yaa Bani Adam “Anak Cucu Adam”
Al-Qur’an menyebutkan tentang Bani Adam sebanyak 9 kali, di antaranya juga terdapat dalam surah Yasin ayat 60. Jika kita perhatikan lebih seksama, ayat ini mengarahkan manusia dari segi amaliah, juga sebagai upaya mengenal diri sendiri atau memahami tingkatan kita dalam Al-Qur’an. 

Sebagai contoh dalam segi amaliah, mari kita simak terjemahan ayat di bawah ini :
(QS. Al Isra [17]:70) “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. 

2. Manusia dengan sebutan Basyarun
Manusia dengan gelar ‘’basyarun’’ disebutkan sebanyak 36 kali, dan tersebar di dalam 26 surah. Secara etimologi ‘’basyar’’ berarti kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya segala macam rambut. Selain itu, ayat ini menjelaskan bila manusia dipenuhi dengan keterbatasan termasuk membutuhkan makan dan minum. Berikut ayat yang menjelaskan tentang basyarun, dikisahkan oleh Muhammad SAW, yakni manusia yang terdiri dari berbagai organ tersebut sangat rentan melakukan persekutuan kepada Allah SWT’’. 

QS. Al Kahfi ayat 110, ‘’Katakanlah, Sesungguhnya aku Ini (Muhammad) manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh, dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya


3.  Manusia dengan sebutan An-Nas
Untuk manusia dengan sebutan An-nas, 241 kali disebutkan di dalam 55 surah. Sebutan An-Nas merupakan paling banyak diungkapkan, seakan memberikan pesan bahwa manusia dari macam inilah yang banyak ditemukan. Di antaranya ayat yang menyebutkan tentang An-nas di surah An nisa ayat 174:  ‘’Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya), dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)’’.

4. Manusia dengan sebutan Insan
Asal kata dari Insan berasal dari kata ‘’al-uns’’, Dan sebanyak 65 kali disebutkan dan tersebar di dalam 43 surat. Insan dapat diartikan lemah lembut, harmonis, tampak, atau pelupa. Kata ini digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyampaikan tentang manusia yang kemanusiaannya secara totalitas Jiwa dan raga. Manusia yang telah sampai pada segi insan yang sempurna yakni ‘’kamil’’, Bermakna: ‘’manusia sempurna’’, yang memang susah ditemukan. Karena umumnya manusia seperti ini memilih menepi meninggalkan segala hiruk pikuk dunia. 

Namun tidak menutup kemungkinan mereka juga ada di antara kita, Tanpa mencolok tapi kehadirannya benar-benar ada. Sebagaimana yang diungkapkan Haidar Baqir (cendekiawan islam), saat beliau ditanyai oleh salah seorang peserta seminar, “Apakah insan kamil itu ada pada zaman ini?”, dengan tegas beliau menjawab “Saya yakin ada, Tidaklah mungkin disebut-sebutkan dalam Al-Qur’an jika hal itu mustahil dicapai manusia’’.

Kontributor : ARBAMEDIA TEAM - Kediri 

9 Nama - Nama Rasulullah Selain Muhammad Dan Penjelasannya

image: noorculturalcentre.ca
Selaksa doa kami haturkan kepadamu duhai engkau yang menambatkan cinta yang dalam kepada umat-umatmu. Seperti itu pun kami yang senantiasa merindukanmu meski jarak waktu telah berlayar begitu jauh. Engkau Nabi sang revolusioner sejati, mengajarkan kami tingkah laku, memberitahukan kami apa maksud dari kehidupan ini. Apapun yang engkau lakukan menjadi suri tauladan pengantar cahaya bagi kami. Dari nama-namamu, akhlakul karimah itu telah tercantum.

Muhammad dalam gramatikal Arab adalah isim maf’ul, dari kata hamida (memuji). Kata Muhammad lebih luas cakupannya dari Mahmud (artinya juga “yang dipuji”). Kata Muhammad adalah bentuk mudha’af dalam rangka menegaskan sifat terpuji.

Dalam kitab shahih Al-Bukhari, dijelaskan makna nama Al-Mutawakkil. Abdullah bin Amr berkata “aku membaca sifat nabi di dalam suatu kitab*, “Muhammad adalah utusan Allah, Ia bukan orang kasar lagi keras''. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan memberi maaf. Aku ( Allah ) tidak akan mencabut nyawanya sebelum Aku menegakkan agama melalui dirinya. Sehingga orang-orang akan mengatakan lailaha illallah, ia adalah orang yang berhak diberi nama (Al Mutawakkil), karena ia bertawakkal kepada Allah dan menegakkan agama Allah.

Inilah beberapa nama Rasulullah SAW beserta makna di dalamnya: 

1. Al-mahi, artinya: Allah menghapuskan kekafiran melalui diri Rasulullah. Saat beliau diutus sebagai Rasul, seluruh manusia di bumi masih dalam keadaan kafir. Kecuali segelintir orang dari kalangan ahli kitab. Sebagian dari mereka penyembah bintang, penyembah api, filosof yang tidak mengenal syariat Allah dan tidak mengakuinya. Allah SWT menghapuskan semua itu dengan mengutus Rasulullah Muhammad, sehingga agama Allah mengungguli agama lain, mencapai apa yang dicapai siang dan malam. Dakwah agama dari Sang Ilahi menembus segala penjuru Negeri.

2. Al-Hasyr , seakar dengan kata al-basyr yang berarti menghimpun atau mengumpulkan. Rasulullah dengan segala kearifan yang dimilikinya sebagai utusan terakhir, dengan membawa Islam sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya. Seakan beliau diutus sebagai Nabi yang mengumpulkan (basyr) manusia.

3. Al-aqib, Artinya: yang datang setelah kedatangan para nabi yang lain. Dengan demikian, tiada lagi nabi setelah beliau. Karena al-aqib adalah yang terakhir. Beliau adalah nabi penutup, dan karena itulah beliau secara mutlak dinamakan al-‘aqib. 

4. Al-Muqaffi, memiliki arti (yang terakhir). Beliaulah yang menjadi akhir bagi nabi-nabi yang mendahuluinya, maka Allah mengakhiri misi kenabian para Rasul dengan mengutus Muhammad. 

5. Nabi At-taubah, Yang bermakna: beliau adalah nabi yang dengannya Allah membuka pintu taubat pagi para penduduk bumi. Sering kali kita mendengarkan kisahnya, saat malaikat menawarkan sebuah gunung untuk dihempaskan kepada kaum kafir Quraiys, lantaran enggan untuk beriman. Rasulullah dengan penuh bijak menjawab fainnahum la ta’lamun: sesungguhnya mereka itu tidak tahu siapa aku (Muhammad). 

6. Muhammad juga bernama nabi Al-Malhamah, karena beliau diutus untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah. Belum ada nabi sebelum-sebelumnya yang melakukan jihad sebagaimana yang dilakukan Muhammad dan pengikut-pengikutnya. 

7. Rasulullah bernama nabi Ar-Rahman, karena Muhammad diutus sebagai rahmat bagi segenap alam, Seluruh penduduk bumi, muslim ataupun yang kafir. Allah SWT meniupkan sifat Ar-rahmannya, untuk dicontoh oleh umat manusia.

8. Rasulullah bernama Al-Amin (Sang pemegang amanah yang terpercaya). Rasulullah adalah yang paling berkah dengan nama ini. Rasulullah adalah aminullah (pemegang amanah) untuk menyampaikan wahyu dalam agama Islam.

9. Nabi juga bernama adh-Dhahuk dan Al-Qattal. Kedua nama tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain, Rasulullah adalah Dhahuk (senantiasa tersenyum), di hadapan kaum beriman tidak marah dan tidak kasar. Namun demikian, beliau adalah qattal (orang yang memerangi) musuh-musuh Allah. Beliau tidak berhenti memerangi mereka meski banyak yang mencela beliau pada waktu itu. Kita kenal pada masa-masa Rasulullah banyak melakukan peperangan diri, untuk menegakkan agama dan keadilan. Rasulullah melakukan peperangan atas seruan kebenaran.

Ada banyak hikmah dan pesan dari nama-nama Rasulullah SAW tersebut di atas. Nama membawa arti, kita pun bisa memulai menggali arti nama-nama kita masing-masing, karena nama ikut berperan dalam perilaku kehidupan kita. Rasulullah, segalanya puja dan puji, dan sebagai suri tauladan umat manusia di seluruh dunia. Bahkan hanya dari namanya getar keberimanan ini muncul.   

Kontributor : ARBAMEDIA TEAM - Kediri

Pesan Ekonomi - Politik Pada Nama Surat ''Al-Baqarah''

image: alislamu.com
Pelita menyabet gelap dengan penerangannya, manusia bertugas mencari cahaya kehidupan itu untuk menyinari diri dan orang lain. Betapa semua risalah kehidupan telah diatur dan tertata di dalam Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW. Ada sekitar 6000 lebih ayat dalam Al-Qur’an, Serta 114 surah bersemayam di 30 juz. Semuanya bermakna penuh arti, nama-nama surah pun terkandung banyak pesan di dalamnya. Namun masih sangat gelap bila hanya sekedar dibaca begitu saja, diperlukan perenungan dengan berbagai pendalaman pengetahuan.

Setiap perenungan dengan niat mengharap Ridho-Nya, penting untuk diyakini bila bisikan itu akan hadir memberi petunjuk, dan itulah petunjuk kebenaran sebagaimana Surah Al-Alaq ayat ke 5: allamal insaana maalam ya’lam: ‘’Dia (Allah) mengajarkan manusia apa yang tidak ia ketahui’’. Rasulullah menegaskan Innamal a’malu binniyat: ‘’Apapun yang kita lakukan tergantung dari niat’’.  

Di 114 Surah, nama-nama dalam Surah ini memiliki makna yang dalam, namun sering terabaikan. Kita kenal Al-Baqarah nama surah kategori awal dalam pembukuan yang dilakukan Ustman Bin Affan. Al-Baqarah berarti: Sapi Betina. Setiap ayat mengandung makna yang luas, pastinya juga dengan penamaan Surah yang di dalamnya ayat-ayat terkumpul. 

Al-Baqarah: Sapi Betina, kita akan berhenti pada pemaknaan ini. Karena hanya sekedar Sapi, Bila pada masa Rasulullah SAW, Bilal saat menjadi penyampai waktu shalat telah tiba, Bilal memiliki suara yang jernih terdengar hingga beberapa kilometer. Di Nusantara saat awal masuknya Islam, Wali songo menirukan cara Rasulullah, tetapi tidak dengan manusia melainkan menggunakan kulit Sapi. Untuk yang pertama kalinya yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sebelumnya, Wali Songo menciptakan beduk dari kulit sapi sebagai penyampai waktu shalat akan tiba. 

Kali ini suara beduk tidak hanya dibunyikan pada saat shalat Jumat, setiap bulan Ramadhan adalah bulannya beduk mewarnai hari-hari puasa, dengan aneka irama yang sedap di telinga, dan di beberapa tempat menjadi tanda waktu berbuka puasa. Beduk terbuat dari kulit sapi: Mari sekedar merenung, ada Bahasa Al-Baqarah di sana.

Tidak hanya berhenti itu, perkembangan zaman yang terus bergerak, di Eropa kulit sapi dimanfaatkan sebagai penghangat tubuh dengan menjadikannya jaket. Tentunya kualitas yang dimiliki jauh lebih baik dibanding buatan manusia. Pada masa Rasulullah, sapi sempat dijadikan sebagai simbol sesembahan oleh kaum Qurays. Rasulullah tidak lantas menghardik ataukah memberantas Sapi, meski kekuasaan Rasulullah begitu kuat pada saat itu. 

Sapi dengan berbagai keunikannya, Hidup subur di negara-negara Asia. Sapi bisa kita temukan di India, Indonesia, Australia, dan sebagian kecil di negara lainnya. Di sisi lain, Di tanah Toraja Sulawesi Selatan, Sapi digunakan untuk upacara adat, umumnya digunakan untuk upacara Kematian. Acara-acara tersebut mampu mendatangkan wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. 

Banyaknya pengunjung yang datang setiap tahunnya ke Tanah Toraja, memberikan dampak ekonomi bagi pemerintah dan warga setempat. Selain upacara-upacara tertentu, ada ‘’Tedong Bonga’’ sejenis Kerbau lebih mirip sapi tetapi dengan “spesies” berbeda, Yang memiliki harga fantastis hingga ratusan juta rupiah. Ciri khas dari ‘Tedong Bonga’’ ini bertanduk panjang dan bening. Semakin unik tanduk yang dimiliki, lebih mahal pula harganya.

Di Madura Jawa Timur, Sapi memeriahkan warga dengan perlombaan. Lomba Karapan Sapi yang mendatangkan banyak pengunjung untuk menikmati perlombaan tersebut. Selain bernilai ekonomi, perlombaan ini pun menjadi momen pengakraban antar warga, sekaligus pengenalan akan keanekaragaman budaya Negeri ini.   

Selain dijadikan beduk, dagingnya bisa kita konsumsi, tulang-tulang, Jeroan seperti paru-paru, jantung dan hati, laris terjual di warung-warung makan. Di Jawa, ususnya pun dijadikan kerupuk yang baik untuk dikonsumsi. Kemudian keunikan dari tanduk Sapi mendatangkan nilai ekonomi yang tinggi, Untuk di Australia yang mayoritas penduduknya non-muslim. Menurut penulis, banyak penerapan Al-Baqarah dengan sangat kompleks, di atas dari nilai-nilai berupa  daging, jeroan, perlombaan, dan keunikan tanduknya, Ada satu hal yang bernilai kesehatan yang oleh Australia dimanfaatkannya dengan baik. 

Sementara, Susu Dancow berasal dari Australia juga diserap dari Sapi betina. Mulai dari jantung kota sampai pada pelosok Desa akan kita temukan di warung-warung besar atau sederhana, bahkan sampai ke setiap rumah, sebagaimana Susu menjadi konsumsi terbaik dengan tingkat gizinya yang sempurna. Tidak hanya di Indonesia, bahkan bisa dikonsumsi oleh manusia ataupun binatang di Seluruh dunia. Jelaslah Al-Qur’an sebagai Rahmatan Lil Alamin: Sebagai rahmat seluruh alam semesta. Subhaanallah.., Memang cakupannya diterima di seluruh dunia.  

14 abad yang lalu, Rasulullah telah menyampaikan ayat ini. Dari Sapi, Toraja menjadi daerah yang maju. Dengan Sapi, membawa kebudayaan Madura dengan ke-khasannya. Australia menjadi Negara maju yang kuat secara ekonomi hingga menguatkan perpolitikan, Juga oleh karena pemanfaatan sapinya. Indonesia sebagai Negara agraris, yang perekonomiannya kali ini mengalami pasang-surut, baiknya melirik kembali surah Al-Baqarah ini sebagai solusi / alternatif perekonomian. Dengan beternak, menjadikan pengolahan hutan semakin sehat, mengingat konsumsi sapi hanyalah  rumput serta daun-daun. 

Jika hutan-hutan hanya digunakan untuk kemanfaatan berupa tanaman sawit dan karet, hanyalah untuk mereka yang memiliki modal sangat besar. Dengan beternak sapi, Modal sederhana mampu menguatkan perekonomian hingga ke titik desa sekalipun. Tentunya, Indonesia tidak memerlukan pengatur suhu sebagaimana perusahaan susu yang ada di Australia. Selain itu kotoran dari sapi bisa menjadi gas, bila diolah lagi akan membantu mengepulkan dapur di rumah. Kotoran sapi pun menyuburkan tanaman, tanpa pencemaran asap setiap tahunnya. Mari beternak, majukan perekonomian Tanah Air.

Kontributor : ARBAMEDIA TEAM - Kediri