Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI. Tampilkan semua postingan

candasantri: TITIPAN PAK KYAI


Setelah liburan selesai awal bulan kemarin, seluruh santri pun kembali kepondok dan beraktifitas sebagaimana biasanya, begitupun dengan kang sudrun yang sudah dipondok sejak tiga hari yang lalu. Tapi baru berapa hari dipondok kang sudrun ternyata tidak kerasan dan pingin pulang, mungkin gara-gara kelamaan dirumah sewaktu liburan kemarin akhirnya ketika kembali kepondok rasa kangenya lebih besar kayak baru mondok lagi, padahal kang sudrun sudah hampir dua tahun mondok, walaupun begitu kang sudrun tidak tahu harus izin dengan alasan apa supaya diperbolehkan.
Namun akhirnya karena sudah tidak tahan lagi rasa kangennya pada orang tua dirumah maka kang sudrun pun nekat minta izin ke pengurus keamanan pondok yang terkenal keras dan tidak mudah memberikan izin pada santri.
Ditemuilah pengurus keamanan tersebut oleh kang sudrun
Kang sudrun : asalamu’alaikum
Keamanan : wa’alaikum salam, oh kang sudrun, ada perlu apa kang ?
Kang sudrun : begini ustadz, saya mau minta izin untuk pulang sebentar....
Keamanan : lhoh bukanya sampyn kemarin baru saja pulang liburan lama, masak sekarang mau pulang lagi kang.!!!
Kang sudrun : iya ustadz, ada hal penting kelupaan ustadz, yang mengharuskan saya pulang. Apa boleh ???
Keamanan : memang hal penting apa itu kang ?!!
Kang sudrun : titipanya pak Kyai ustadz.. saya lupa, kalo tidak saya sampaikan saya takut dimarahi beliau karena dianggap tidak amanah sebagai santri.
Keamanan : ohhh.. emmm ya sudah kalo itu gitu, , sebelum di panggil pak Kyai dan tanya  titipan beliau, saya izinkan pulang sampyn kang.
Kang sudrun : enggeh ustadz, terimaksih, kalao begitu saya izin pamit, asalamu’alaikum (sambil hatinya tersenuyum bahagia, kang sudrun pun menjabat tangannya sang keamanan)
Keamanan : eh sebelum pamit, ngomong-ngomong pesan titip apa Beliau pak Kyai kang ???
Kang sudrun : emmmm, (sambil ragu-ragu kang sudrun pun menjawab) pesan titip salam untuk orang tua saya ustdaz.......
Keamanan : angkat kakimu satu kang,!!!!%$%, tunggu disitu saya ambilkan HP !!!?$%
.
.
(sebelum pulang liburan pak Kyai sebagai pengasuh ponpes biasanya selalu berpesan dan memberi nasehat kepada para santri dan salah satunya yakni menitipkan salam pada orang tua dirumah)

 oleh. candaasa

canda asa: Tidur Subuh Menjadi Alasan

Add caption
      Setelah terlalu asik begadang di warung kopi, kang sudrun lupa kalo besok pagi ada jadwal muhafadhoh nadhom al-Imrithi, akhirnya ketika waktu subuh tiba bukan hanya kantuk yang dia rasakan tapi juga pikiran kang sudrun tidak karuan karena  belum ada persiapan hafalan yang akan disetorkan setelah selesai jama’ah subuh.
        Tetapi bukan namanya santri kalau tidak berani bertanggung jawab dan lari dari masalah, maka kang sudrun pun tetap datang ke tempat ngaji untuk setor hafalan atau muhafadhoh walaupun belum ada hafalan yang akan disetorkan, namun karena jika tidak hadir maka takziranya pun akan berlipat, takziran tidak hafal dan tidak masuk,  maka lebih baik dapat takziran karena tidak hafal saja begitu pemikiran kang sudrun.
Setelah jama’ah subuh kang sudrun langsung menuju ke tempat pengajian dengan membawa kitab nadhoman Imrithi langsung memilih tempat paling pojok dan belakang.Tak berselang lama sang ustadz pun datang, tahu banyak santri yang tidur-tiduran ditempat tersebut, maka sang ustadz pun memberikan nasehatnya “ santri-santri jangan di biasakan tidur setelah subuh, itu kebiasaan tidak baik, adapun tidur tersebut dinamakan dengan tidur ‘Ailulah, sedangkan tidur ‘Ailulah itu dapat menyebabkan lupa, kalo mau tidur nanti siang saja, itu malah bisa menambahkan kecerdasan namanya qoilulah, sekarang cepat ambil wudhu’ biar tidak pada ngantuk dan tidur”. Para santri pun menganggukan kepala tanda mengiyakan nasehat sang ustadz tadi.
       Kemudian para santri pun satu persatu menyetorkan hafalannya dan tibalah gilirannya kang sudrun, maka terjadilah keanehan ketika kang sudrun menyetorkan hafalannya, kang sudrun yang biasanya keras suaranya tiba tiba suara mengecil dan tidak terdengar apa yang sedang dia lafalkan, akhirnya sang ustadz pun bertanya pada kang sudrun dengan nada sinis.
Ustadz : kang sudrun, bait apa yang kamu sedang lafalkan kang ! kok tidak terdengar
Kang sudrun : saya belum melafalkan apa-apa ustadz.
Ustadz : apa kamu tidak hafal kang ?!
Kang sudrun : sebenarnya tadi saya sudah hafal ustadz
Ustadz : lalu kemana hafalanmu itu,?! kok diam saja sekarang. sudah berapa kali kamu ini dinasehati untuk selalu muthola’ah dan menambah hafalan setiap hari. Jangan sia-sia kan waktumu itu dengan bermain dan bercanda saja.
Kang sudrun :  maaf ustadz, hafalan ku tadi tiba-tiba hilang dan lupa ustadz
Ustadz : kok bisa ?! memangnya apa yang tadi kamu lakukan.
Kang sudrun : tidur sebentar ustadz setelah subuh.
Ustadz : pus up 1000 kali kamu kaaaaaaaaaaang !!!!!$%$


Oleh. canda asa

Al-Qur’an Sudah Mengajarkan Idealisme dari Awal Sejak Kita Lahir

Gambar: islamicity.org
Menyoal kitab suci, banyak sekali kodifikasi di dalamnya. Kodifikasi yang dimaksudkan untuk pembenaran suatu dasar hukum yang berkembang di semua pihak. Namun bagaimana bila naskah yang terstruktur secara kritis transformatif tersebut sudah mengajarkan kita, bukan mengajarkan, maaf lebih tepatnya memberi tahu kita dan mengajak berpikir tentang idealismenya terhadap pandangan manusia yang berbeda pandangan.

Sama halnya dengan kitab suci umat Islam atau yang kita tekuni selama ini, kita kaji setiap hari, kita ulang dalam membaca, bahkan ada yang sampai paham serta mengetahui maksud di dalamnya. Namun mereka yang paham kadang juga menyalahgunakan, sampai pada akhirnya kita sebagai makhluk yang belum tentu tahu dan paham maksud dari Al-qur’an tersebut, mulai mengira dan berandai-andai dengan pertanyaan nalar yang wajar, dengan kemampuan berpikir manusia secara umum. 

Misal, dulu dikatakan bahwa kitab suci yang sampai akhir hayat adalah Al-qur’an, kitab suci yang menjadi dasar hukum umat hidup di dunia dan selamat di dunia sampai akhirat. Namun adakah kemungkinan seumpama Al-qur’an itu kemudian ada pembaruan ketika semua penghafal Al-qur’an (read:tahfidz) sudah meninggal?. Apakah tidak ada kemungkinan akan ada keyakinan baru jika keadaannya sudah seperti itu?. Pertanyaan seperti ini memang akan bisa dilawan di dalam Al-qur’an, namun coba kita pikir secara logika, bagaimana penyadaran umat jika ada yang berpikir sedemikian?

Kemudian contoh yang lain, Al-qur’an memberikan keterangan tentang hal sabar yang terdapat di surat Az-zumar, Al-baqoroh, Ali Imron, Asy-syuara’, dan surat Muhammad, kita kaji QS. Az-zumar ayat 10 yang artinya : 

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Di sini sudah jelas digambarkan, bahwa siapa pun yang sabar maka akan didekatkan dengan keberuntungan kepada Allah, barang siapa yang bersabar akan selalu bersama syafaat Allah. Namun di dalam hal lain, di surat-surat Al-qur’an yang lain juga dijelaskan pengertian, bahwa tidak ada yang bisa mengubah seorang kaum apabila tidak mengubahnya sendiri. 

Dijelaskan di dalam QS Al-Anfal ayat 53 yang artinya :

(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621]  , dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Sekarang mari kita pikir logika, itu cuma satu ayat atau satu redaksi yang terdapat dalam kitab suci Al-qur’an. Bagaimana jika kita analogikan dengan keadaan yang lain. Semisal, tentang sebuah usaha yang katanya Tuhan tidak akan menguji hambanya dengan cobaan yang melebihi batas kemampuannya. Namun sisi lain dijelaskan dalam realita, bahwa banyak sekali fenomena yang sedang terjadi di negara bagian muslim yang hanya bersabar dalam cobaan dan teror, dengan landasan bahwa akan ada pertolongan tuhan dalam bentuk lain, namun pada akhirnya mereka tetap saja kesusahan sampai detik ini. Ini sudah sedikit membuktikan bahwa manusia yang diuji memang tidak kuat.

Kita ambil kasus lain, Tuhan menyuruh hambanya untuk berdiam diri saja dan berdzikir kepada tuhan-Nya, namun sisi lain menjelaskan juga bahwa, jangan kamu diam saja, kamu berhak melawan jika ada yang tidak sopan kepadamu, atau lain sebagainya.

Pada akhirnya, kajian ini hanya bersifat logika yang bisa kita nalar bersama untuk mengetahui isi Al-qur’an secara gamblang. Mengajak kita, membuka pikiran kita untuk belajar membaca Al-qur’an sampai pada asbabul wurudnya diturunkan ayat tersebut. Begitu indah muslim dan agama Islam yang sudah digariskan oleh Tuhan semesta alam Allah SWT. Islam berbagi  ( Lh  /  asadenanyar )

[621] Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

Kala Terdengar Suara - suara Lantang di Atas Kubah

Gambar: islamlaws
Sepertinya, kalian sudah tahu perihal apa yang selalu mengganjal di hatiku. Yaah, tentang gesekan sandal karet yang melangkahkan kakinya menuju tempat beribadah. Kelihatannya, sekarang menjadi asing ketika testimoni-testimoni liar tak bertanggung jawab mengonani otak kita. Seakan hal tersebut tak lagi menjadi budaya.

Apa kalian tidak pernah tahu, tangis orang yang sudah dikebumikan itu masih lantang terdengar sampai ke bumi. Sosok yang dulu dijunjung tinggi, sekarang tak pernah dipanjat dalam sebuah perenungan. Biadab..! itu yang harusnya aku luapkan kepada kalian yang hanya bisa menikmati tawa, sementara sekian orang lainnya berjuang demi hal yang diduga bermanfaat.

Bisa-bisanya kalian datang ketika orasi lantang menyuarakan uang dan masa depan, bisa-bisanya kalian cuma datang ketika ada panggilan undangan yang ada jadwal makan. Lalu, apa bedanya kalian dengan orang tak berakal..? apa bedanya kalian dengan binatang?. Terpanggil hanya di waktu makan dan tertidur ketika terpuaskan.

Sahabat, kita itu ibarat pondasi yang bukan di rumah kita berpijak. Tapi di kahyangan nirvana kelak kita bersandar. Seumpama kamu hanya mendengar dan tidak mau berangkat ketika mendengar suara itu, lalu siapa yang bakal mendengarmu ketika suara lain mengumandangkanmu dikebumikan?. Usah kau tanya masalah gaji dari yang Esa, semua sudah tertata rapi dalam catatan buku suci atas kuasa-Nya.

Tugas kita bersama cuma satu, mendengar suara-suara lantang di atas kubah, mendendangkan syair-syair cinta semesta yang menuju kepada-Nya, serta tak terpengaruh semua makhluk yang menyekutukan-Nya.

Kelak, pada suatu hari yang sudah ditulis di dalam kitab-Nya, kita akan bertemu dalam ruang abadi nan suci memeluk mahligai, dan menjadi manusia bersih sepanjang hayat. Kalau kau mampu memeluk dan melakukannya mulai sekarang, tabir kubah itu masih sangat luas untuk kau tangisi dengan firman-firman. Suara - suara itu akan terulang berkali-kali untuk kau datangi dengan senang. Lakukan sekarang, atau kau akan dilalaikan..! ( Lh/asadenanyar )

Jombang, 8 April 2017